Pesan dan Nasehat DR. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA

Anak-anakku sekalian, yang tidak bisa ditutupi adalah kebahagiaan. ana sa’id biliqôi abnâi al- indonisi al-maujud hinâ. Ini merupakan sebuah pertemuan yang kami sengaja untuk ikut mengawal, mendo’akan dan memantau anak-anak Gontor dan umat ini seluruhnya hingga bapak Kedutaan Besar Republik Indoensia di Kairo. Dengan harapan agar kita semua memiliki prestasi, gerak dan berkah dalam perjuangan kita. Amin.

Saya di Gontor sebagai Pimpinan Pondok, memimpin bukan hanya sekedar menggerakkan dan bukan sekedar manager. Serta bukan juga sebatas melaksanakan program pendidikan di Gontor. Saya bukan sekedar menjadi pimpinan administratif Gontor, saya pun bukan sekedar pimpinan akademisi. Tapi saya memimpin, mendidik, membela dan memperjuangkan Gontor.

Dalam perjalanan saya yang kurang lebih dua puluh lima tahun memimpin Gontor, merupakan sebuah suka duka dan sebuah keasyikan dalam berjuang dan memperjuangkan diri. Sehingga guru saya, Syeikh Muhammad Al-Ghazali berkata, taharrok fainna fil harokati barokah. Maka disinilah letak peran dan fungsi seseorang ditentukan oleh satu idealisme yang jelas. Akidah kita yang benar dan idealisme yang jelas serta daya juang yang baik dan benar, inilah harga seorang manusia. Tanpa itu, seperti yang dikatakan guru saya, anta zabalah. Min ghoiri aqîdah wal amânah, al-mustaqbal al-ba’id. Wa ‘indanâ majhud fardiyyan aw jama’iyyan. Hâ huwa dzâ qîmatul insân. Begitulah beliau berulang-ulang kali berbicara di hadapan saya di masjid fusthot dan di rumah beliau, hingga masuk dan meresap dalam diri saya.

Yang kedua ayah saya ternyata juga memiliki seorang guru, seorang pejuang dari Tunis namanya Muhammad Al-Hasyimi. Ia merupakan pejuang Tunis yang pindah ke Singapore, kemudian diusir hingga pindah ke Solo. Beliau inilah yang mengajarkan mahfûdzot dan filsafat hidup kepada ayah saya. Sehingga ayah saya terkena setruman beliau dan menjadi mujahid yang keras. Dari filsafat hidup dan akidah yang benar serta daya juang yang semakin lama bertambah meningkat, maka bagaimana cara kita meningkatkan diri kita. Untuk itu, dengan idealisme yang tinggi kita bisa menjadi mujahid. Dengan daya jihad yang sedemikian rupa serta cita-cita yang tinggi, kita akan menjadi seorang manusia yang pekerja keras. Keras berpikirnya, keras bekerjanya, keras berdo’anya dan keras kita bersabar. Empat keras.

Keras berpikir, selalu memikirkan pondok terus tidak pernah berhenti. Maka sekarang pun juga, pengasuh-pengasuh pondok pesantren cabang agar selalu mengambil inisiatif. Maka, saya wajibkan dalam sehari lima belas pekerjaan yang dikerjakan oleh pengasuh pondok cabang, direktur KMI dan yayasan. Mereka melaporkan kepada saya melalui sms enam belas pekerjaan yang harus dikerjakan setiap hari.

Kita harus banyak bergerak. Taharrok fainna fil harokati barokah. Dari sinilah maka kita selalu bergerak dan menggerakkan, hidup dan menghidupi, berjuang dan memperjuangkan. Dengan gerakan-gerakan yang total, bukan hanya sekedar pelajaran. Saya menggerakkan Gontor dari seluruhnya, jikalau saya mengambil kebijakan antara dua puluh lima sampai tiga puluh kebijakan dalam satu hari, maka pengasuh-pengasuh pondok cabang dan sebagainya enam belas kebijakan, sehingga semua elemen akan tersentuh. Baik pengasuhan, pramuka, pelajaran sore, olahraga, sepak bola, seni dan apapun juga akan tersentuh oleh kita. Kalau tidak satu hari, maka dua hari akan tersentuh.

Totalitas gerakan dengan dinamika yang sangat tinggi di Gontor itulah yang mendidik kalian. Sehingga pola pikir, sikap, tingkah laku dan mentalitas kalian mempunyai karakter khusus Gontor. Seperti yang dikatakan Pak Sahal, “Di jidadmu ada stempel Gontor”. Diakui ataupun tidak diakui, Nurcholis Majid seorang Doktor tamatan Chicago, setelah beliau mendapatkan penghargaan doctor honoris causa, beliau mengatakan ini semua dari Gontor. Bahkan ketika beliau hendak meninggal masih mimpikan ayah saya. Jadi betapa ta’tsîr harokah Gontori itu masuk ke dalam diri santri-santrinya.

Kalau tidak ada niat di Gontor untuk mendapatkan pendidikan, sentuhan, setruman dan ilmu, maka dia tidak akan mendapat apa-apa pun juga. Karena innamal a’mâlu binniyyât. Di Kairo jika tidak ada niat untuk meningkatkan diri baik akademis dan prestasi apapun, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa.

Pertemuan saya dengan Syeikh Muhammad Al-Ghazali di Wusthot (Muhandisin), disitulah saya bertemu dengan orang Palestina, South Afrika, Thailand dan lain sebagainya. Ada beberapa orang garis keras. Dan ada juga dari teman-teman saya yang bergerak tidak hanya di bidang politik dan keilmuan.

Dari sinilah saya bergerak, sehingga ketika saya di Ciputat filsafat hidup saya keluar. “Kecil dan besar tidak masalah, yang penting mainnya”. Dari sinilah kita memainkan peran dan fungsi seseorang. Saya memainkan peran dan fungsi saya sebagai seorang kyai yang tidak ada arti apa-apa. Kedudukan tidak penting, yang terpenting adalah bisa memainkan peran dan fungsi. Sebagai Duta Besar,  Luar Biasa. Sekarang saya baru mengetahui, ada Duta Besar yang sangat terkesan oleh saya. Satu adalah Menteri Luar Negeri, Bapak Hasan Wirayuda. Dan kemudian Drs. A.M. Fachir ini. Karena memikirkan masyarakat Indonesia dan juga masyarakat Nasional. Beliau ini membuat seminar yang dihadiri oleh sekian banyak orang. Berapa ribu pound yang keluar. Nyatanya seorang Duta Besar bisa mengeluarkan uang untuk kepentingan kita, mengapa pada zaman dahulu tidak?

Itulah bagaimana memainkan fungsi dan peran sebagai Duta Besar, sehingga gaungnya luar biasa sekali. Syeikhul Azhar, Rektor Azhar dan lain sebagainya datang. Luar biasa. Begitulah menggerakkan dunia. Maka terpikirkan oleh saya, bagaimana menggerakkan dunia dari Gontor. Saya membuat acara peringatan 80 tahun Gontor. Saya undang Presiden, Wakil Presiden, Menteri-menteri dan Syeikhul Azhar. Maka dalam bahasa Pak Sahal, njajal awak (mencoba kemampuan diri). Sejuah mana saya bisa berperan dan berfungsi sebagai Pimpinan Pondok di dalam meneguhkan dan melaksanakan pendidikan di Pondok Modern Gontor.

Baiklah, inilah perkembangan Gontor, sementara itu kita sudah membeli kelapa sawit sebanyak 500 ha di Jambi. Alhamdulillah. Ini untuk masa depan Gontor. Sekarang yang sudah mendaftarkan diri untuk menjadi kader pondok 36 orang. Ada beberapa orang sudah mengabdi di luar, sekarang datang ke Gontor dengan istrinya dan anaknya. Jadi Gontor berkahnya luar biasa. Guru Gontor status sosial yang tinggi di masyarakat, khususnya di Ponorogo. Status sosial ini penting dan saya buat sedemikian rupa. Kesejahteraannya pun juga kami pikirkan. Bahkan sudah bisa menyekolahkan dan mengawinkan anak-anaknya.

Sekarang ada Gontor 1, Gontor 2, Gontor 3 di Kediri, Gontor 4 (putri 1), putri 2, putri 3, putri 4, putri 5 di Kediri, Gontor 5 di Banyuwangi, Gontor 6 di Magelang, Gontor 7 di Kendari, Gontor 8 di Way Jepara, Gontor 9 di Kalianda, Gontor 10 di Aceh, Gontor 11 di Suit Air. Dan satu Gontor lagi yang paling baru yaitu di Jambi. Karena bupatinya akan memberikan sejumlah tanah, sehingga saya harus datang ke Jambi sendiri untuk memilih tanahnya dan membangun masjid. Sebab yang akan mengelola 500 ha kelapa sawit harus guru Gontor sendiri yang memiliki pos di situ. Kita juga sedang ditawari 1000 ha untuk kelapa sawit dengan harga enam ratus ribu Rupiah per/ha. Ini kan murah sekali.

Ketika saya datang ke Jambi ingin ketemu Bupati, ternyata Bupati itu mendapatkan Bintang Melati Pramuka di Jatinangor bersama saya yang disematkan langsung oleh Bapak Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Maka saya mendapatkan wakaf 100 ha kelapa sawit dan 10 ha-nya untuk pendirian pondok pesantren.

Jadi begitulah ceritanya, saya mencoba kemampuan diri saya sebagai pimpinan pondok. Pertanyaannya, apakah dengan banyaknya pondok pesantren cabang apakah Gontor bisa mempertahankan kualitasnya? Gontor itu lembaga pendidikan. Jikalau Dr. Hidayatullah, MA, Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M. Phil, Ust. Suharto dan doktor-doktor lainnya itu berkumpul di Gontor dan tidak membuka cabang apa dijamin Gontor akan hebat? Nanti dulu. Sedangkan jumlah santrinya hanya 3000, 2000 atau 1000, apakah dijamin akan hebat?

Dalam sejarah dunia pesantren organisasi apapun permasalahan-permasalahan hidup akan ada. Antara masalah keluarga, guru, santri, masyarakat dan lain sebagainya akan terjadi. Jikalau orang-orang potensial itu berkumpul di dalam satu tempat dan tidak ada pemersatu yang tidak bisa mengatur tata kehidupan itu dengan dengan baik, akan terjadi konflik. Dan Gontor sudah banyak mengalami konflik-konflik sepeti itu.

Karena banyaknya pengalaman, konflik-konflik yang terjadi antar keluarga, guru, masyarakat dan lain sebagainya, maka saya mengusulkan kepada badan wakaf untuk membuat Gontor cabang. Bagaimana caranya? Gampang. Di Gontor itu 850-900 anak kelas 6 yang keluar dari gontor setahunnya. Dan antara 80-200 S1 keluar dari Gontor. Kelas 6, daripada setahun mengabdi, mengapa tidak mengabdi kepada pondok pesantren cabang dan kepada pondok pesantren Gontor. Maka, setiap tahun saya ambil kurang lebih sekitar 300-400 anak kelas 6 yang mumtaz, yang baik-baik dari segi aqliyahnya dan keilmuannya. Begitu juga dengan S1 yang bagus-bagus saya tugaskan kepada pondok-pondok pesantren cabang. S1 alumni Gontor itu, adalah orang-orang yang memiliki 7 fungsi. Yaitu wali kelas, wali pramuka, wali konsulat dan lain sebagainya. Ini memiliki penampilan yang prima, ikut berpengalaman dalam bermacam-macam kegiatan. Diantaranya adalah kalian-kalian ini. Dari sinilah maka ketika mereka kami tugaskan ke Kendari, Aceh dan lain sebagainya, luar biasa.

Di Gontor saya mendirikan SOP (Standar Operasionil Pelaksanaan Pendidikan), ada standar mutu, ada standar guru dan ada standar pimpinan pondok pesantren. Selalu mengambil inisiatif, bekerja keras, membuat jaringan kerja, memanfaatkan jaringan, bisa dipercaya dalam bidang keuangan dan pekerjaan. Begitulah cara saya membina dan mengendalikan pengasuh-pengasuh cabang. Akibatnya, memang pondok-pondok cabang dari segi etos kerja dan dinamikanya tidak seperti di Gontor, karena juga pengasuh-pengasuhnya pun sedemikian rupa.

Ini ibarat Indonesia Jakarta dan Singapore. Singapore itu disiplin di jalan ketat. Buang rokok di jalan tidak ada. Tidak ada yang melanggar lalu lintas, akan tetapi di Jakarta buang rokok seenaknya, melanggar lalu lintas seenaknya. Tapi jika orang Indonesia ketika ke Singapore akan ikut disiplin. Maka anak-anak cabang ketika masuk ke Gontor akan ikut disiplin Gontor, menyesuaikan diri.

Anak kelas 1 sampai kelas 5 yang belum pernah ke Gontor kita pindahkan kelas 6-nya ke gontor 1 tahun. Berkumpul dan bersaing dengan anak-anak Gontor yang ada di Gontor. Anak Gontor yang baik-baik kita tugaskan ke pondok-pondok cabang. Jadi kelas 6 itu kita bagi ke Banyuwangi, Kendari dan lain sebagainya. Diantaranya adalah kalian yang kita tugaskan kemana-mana, sebagai uswatun hasanah. Dari sinilah, iklim dan miliu itu sangat standar sekali. Dari bangunannya, disipilinnya dan lain sebagainya. Sampai saat ini pondok pesantren mana yang bisa mengembangkan 16 pondok pesantren cabang. Biayanya bagaimana, gurunya seperti apa, standar operasionilnya bagaimana, memanagenya seperti apa, inikan pertanda bahwa Gontor bisa.

Yang kedua, meskipun banyak pondok-pondok pesantren tetapi tertahan system oprasonil dalam nilai dan system.

Yang ketiga Gontor dianggap mampu menyelesaikan beberapa permasalahan dan konflik-konflik baik diluar maupun di dalam pondok. Tiga hal ini yang diluar dugaan saya sehingga mereka menghargai Gontor sedemikian rupa. Karena saya bisa menyelisaikan konflik, mengembangkan Gontor sehingga Gontor tetap eksis.

Yang terakhir bahwa anak-anak kelas enam yang di Gontor dari pondok-pondok cabang memeliki kesamaan nilai dengan anak-anak yang di Gontor. Ada yang Mumtaz, ada yang Jayyid Jiddan dan tentunya ada yang asfala safilin. Sama dengan anak Gontor itu sendiri. Akan tetapi secara mental dan akliyyah dan Gontoriyyah, ini memang kita tanamkan kepada anak-anak sedemikian rupa. Dan disini jugakan ada anak-anak pesantren cabang Gontor yang datang kesini dan sebagainya, yang ternyata juga baik dan mampu.

Demikianlah bercerita tentang cabang Gontor. Dalam rangka memuwudjudkan cita-cita Gontor atas nasihat, saran dan doa Syeikhul Azhar, Syeikh Mahmud Saltun. Beliau berkata “Alfu Gontor fi Indonesia” . Seribu Gontor di Indonesia.

Dari situlah anak-anakku sekalian, ini merupakan tantangan dan ujian dan juga merupan sebuah harapan buat saya untuk memerankan dan mengfungsikan saya sebagai kyiai, dan beberapa anak Gontor dalam rangka keumatan yang sedemikian rupa. Maka yang ke Mesir diperbanyak tetapi yang di Mesir diperbaiki.  Yang akan ke Mesir di Kontrol.

Dalam peran dan fungsi Gontor Nasional dan juga internasional, merasa bahwa Gontor itu apakah sudah waktunya berperan secara nasional. Yang menasional itu apanya?!, yang menjadi pertanyaan saya sendiri. Maka coba, Gontor itu madzhabnya bukan “fakir qobla anta’zima” tetapi “jarrib walahiz takun aarifan”. Coba !.

Menjadi seorang pengurus koperasi pelajar dan kopda meskipun tidak memiliki keterpampillan akan tetapi cobalah!. haruslah secara jujur dan sungguh-sungguh, walaupun tidak miliki keterampilan, mudah saja. Maka untuk seseorang yang meiliki toko bangunan, tidak perlu berpendidikan tinggi dan sekolah, itu sambil mondok saja bisa. Dari sini maka ada keritikan untuk menjadi seorang yang kaya, tidak perlu pergi ke Mesir. Untuk menjadi seseorang yang memiliki puluhan bis tidak perlu pergi ke Mesir. Keterampilan-keterampilan itu mudah dipelajari akan tetapi membina mental dan karakter ini yang tidak mudah. Maka ketika saya diminta untuk berbicara di DPR pusat sana tentang permasalahan pendidikan Indonesia yang terperosok hingga ke urutan 112.

Indoneia terpuruk masalah pendidikannya karena tidak mementingkan karakter, mental dan moral. Yang ada hanyalah transformasi Informasi.  Informasi tentang masalah politik dan ekonomi. Akibatnya kondisi di masyarakat rusak. Rumah tangga tidak sempat terpikirkan, anakpun terkena narkoba. Akibatnya rusak. Kitapun yang mendidik di Gontor sedemikian rupa, kadang-kadang rusak karena masyarakatnya rusak. Kembali lagi, akhirnya rusak meskipun hingga akhirnya di umur 30-40 tahun mulai di menyadarinya. Jadi dia mulai menyadari bahwa lembaga pendidikan yang baik itu di Gontor. Dari sini maka Gontor tetap pada jiwa, filsafat hidupnya, totalitas kegiatan dan lain sebagainya.

Fungsi dan peran kiyai adalah mengatur, menata dan menggerakkan hidup dan kehidupan yang total di Gontor, akhirnya terbinalah watak, katakter, mental dari Gontor.

Maka Gontor lebih mementingkan pendidikan dari pada pengajaran. Akan tetapi itu saja tidak cukup, diperlukan sebuah keterampilan hidup. Keterampilan hidup bukan hanya keterampilan menyetir mobil, berdagang, akan tetapi keterampilan hidup secara keseluruhan.

Maka dirayon diajarkan bagaimana seseorang hidup dengan orang yang dia sukai dan yang tidak disukainya. Di dunia manapun, pasti ada yang cocok dan tidak cocok. Bapak Duta Besar pun banyak menemukan home staf yang cocok dan yang tidak cocok akan tetapi bisa hidup dengan mereka semuanya. Saya sebagai pimpinan pondokpun demikian. Maka anak-anak Gontor terlatih di rayon, pramuka, di kelas dan beberapa tempat, sedemikian rupa sehingga mampu hidup dalam kehidupan yang sedimikian itu.

Musibahnya, anak Gontor maupun alumni pondok pesantren lainya, mengalami shock culturil. Di Gontor yang sedemikian ketaknya, kemudian keluar bebas. Anak al-Azhar jakarta pun demikian pula problemnya, begitu keluar dari al-azhar jilbabnya tidak dipakai dan lain sebagianya. Itulah masalah yang sama. Maka ketika diskusi di diknas, di Jakarta bersama profesor doktor dan beberapa pakar pendidikan, ternyata ketika lobi-lobi mendapatkan kesulitan pada masyaralat Indonesia yang mulai macam-macam. Baik dari krisis ekonomi, politik, moral, dan lain sebagainya, ini adalah hal yang luar biasa. Maka ketika saya pergi ke kuala lumpur, bertemu dengan beberapa mahasiswa China yang lebih memilih Malaysia ketimbang Indonesia. Mengapa harus Malaysia. Karena Jiakalau  dibawa ke Indonesia akan rusak. Jadi terpaksa saya dibawa ke kuala Lumpur. Demikianlah keadaan pendidikan masyarakat Indonesia, aplagi masa-masa serti saat ini. Semuanya kebingungan. Sekian dari saya.

One thought on “Pesan dan Nasehat DR. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA

  1. Pingback: MEMIMPIN PESANTREN | S o f w a n M a n a f

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s