Ke Gontor, Apa yang Kau Cari ? (Part 2)

March 7, 2012

Setelah menonton film Negeri 5 Menara, membuat saya semangat kembali akan mantra “Man Jadda wa Jada”, ya kali ini saya akan meneruskan untuk sharing seputar kehidupan saya semasa menjadi “Alif” wannabe.😀

Mungkin kisah saya berbeda dengan tokoh “Alif”, walaupun ada sebagian kecil yang sama. Check this out.🙂

Sampai mana ya ceritanya ? Hmm…Oia, sampe cerita masa Liburan yaa…

Singkat cerita, masa 50 hari (Red ceritagontor: sekarang hanya sekitar 20 hari, tahun 2012) untuk Refresing pun berakhir, dan kami diwajibkan untuk hadir tepat waktu di tempat yang sesuai dengan penempatan kami.

Karena penempatan saya di Gontor 1, maka saya pun sekitar 2-3 hari sebelum Deadline pendaftaran ulang untuk Santri baru, berangkat ke Ponorogo. Dan akhirnya saya pun tiba di TKP dan langsung melakukan herregistrasi.

Setelah itu, kami para Santri baru, biasanya membeli Shunduq (Lemari) utk tempat barang2 kebutuhan kami sehari-hari, seperti baju, buku, ember, pokoknya semuanya disimpan dalam sebuah lemari. Selain Lemari , kasur pun menjadi barang yang wajib ada. Karna itu yang akan menjadi tempat tidur kami. Kasur disini, bukan kasur Spring bed, ataupun Kasur Tingkat, tetapi Kasur Gulung, ya kaya Matras lah. Supaya Praktis.

Setelah selesai semuanya, saya pun menuju Gedung Asrama. Kami, para Santri baru, ditempatkan di satu Gedung Asrama, nama Gedungnya Aligarh, gedung ini terletak persis di depan Ko’ah ( Balai Pertemuan ) dan sangat dekat dengan Masjid Gontor 1. Di sisi gedung ini, tampak tulisan “Ke Gontor, Apa yang Kau Cari ?”. Gedung ini berlantai 2, untuk lulusan SD seperti saya, ditempatkan di Aligarh Bawah ( Rayon Shigor ), dan untuk lulusan SMP ke atas, ditempatkan di Lantai atasnya ( Rayon Kibar ). Dan singkat cerita, saya menempati kamar no.6. Untuk per kamar biasanya dihuni sekitar 30-40 santri, tapi untuk kamar yang ukurannya lebih besar seperti kamar saya, kapasitasnya sampai 50 santri. Dan di setiap Rayon, di pimpin oleh kakak kelas 5 KMI, dan para Mudabbir lainnya. Kami biasa memanggil mereka “Al’ah”.

Kehidupan di Gontor 1 ini, saya rasakan memang sedikit berbeda, karena jauh lebih disiplin.

Kegiatan sehari2 pun sama, dimulai dari jam 4 subuh, sampai jam 10 malam. Dan setiap pergantian jadwal, ditandai dgn bunyinya “Jaros” alias sebuah lonceng besar yg terletak di depan Ko’ah. Setiap “Jaros” berbunyi, kami selalu dibiasakan untuk bergerak cepat, dan melanjutkan kegiatan berikutnya.

Untuk masalah bahasa, kami mulai diwajibkan untuk berbahasa Arab dan Inggris, yang dilakukan bergiliran setiap minggunya. Menggunakan Bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah, itu perbuatan yang terlarang disini. Mungkin ini cara mendidik kami agar bisa berbahasa Arab dan Inggris. Bisa karena biasa kan ?

Setiap hari, sekitar jam 4 subuh, kami segera bangun utk persiapan menjelang Shalat Subuh berjamaah, banyak diantara kami, yang masih terkantuk-kantuk, ya itulah hebatnya kami, dalam keadaan berdiri ( saat menunggu antrian kamar mandi ) pun, kami bisa tertidur dengan pulas, maka biasanya Mudabbir berkeliling untuk memastikan kami selalu tertib alias tidak tertidur. ( Saya sendiri pernah ketika di Gontor 2 dulu, sempat tertidur sambil berjalan ketika menuju masjid ) >o<

Dan setelah mengambil air wudhu, dan berpakaian rapi, kami Tadarus an di depan kamar kami masing2, sambil menunggu adzan Subuh. Setelah Adzan Subuh, kami bergegas untuk Shalat Subuh berjamaah di kamar kami masing2. Biasanya, Setiap Jeda antara Adzan dan Iqamah, kami selalu melantunkan Syair Abu Nawas ( Al I’tirof – Haddad Alwi )

Setelah beres Shalat Subuh, waktunya kami untuk mandi dan makan, dan kemudian kami pun menuju ke kelas masing2, untuk Kelas Pagi, KBM ini berlangsung sampai menjelang Adzan Shalat Zuhur.

Setelah Shalat Dzuhur berjamaah di Asrama masing2, kami bergegas untuk makan siang, dan setelah itu, kami kembali ke kelas untuk kegiatan KBM sore, sampai menjelang Shalat Ashar.

Setelah Shalat Ashar berjamaah, kami biasanya mengisi waktu untuk berolahraga, ada juga yang nyuci baju, mandi, dsb. Saat menjelang Shalat Maghrib, kami bergegas menuju Masjid Jami’ Gontor, dan Tadarus, sampai Adzan Magrib tiba.

Setelah Shalat Magrib, kami kembali ke Rayon masing2, dan inilah masa yang paling menegangkan *dramatisasi*. Mengapa ? Karna terdapat “Mahkamah” alias Pengadilan. Yap. bagi kami yang melakukan kesalahan, baik karna bahasa, tidak memakai atribut lengkap, bahkan perilaku, akan diadili di Mahkamah ini. Kami biasanya melihat papan “Mahkamah”, apakah nama kami, masuk dalam daftar para “Terdakwa”.

Hukumannya pun bermacam2, sesuai dengan tingkat kesalahan kami. Dan para “Terdakwa” memperoleh hak prerogatifnya menjadi “Jasus” atau mata-mata, untuk mencari santri2 yang melakukan kesalahan, dan begitu selanjutnya. ( Saya pun lumayan sering juga terkena Mahkamah.

Bagi santri yang selamat dari “Mahkamah”, biasanya langsung menuju dapur umum untuk makan malam.

Setelah Shalat Isya, kami biasanya ada Kelas Malam, sampai jam 9-10. Dan kemudian kami, menuju kamar masing2. Yeah ! It’s Sleeping Time. Dan begitu seterusnya.

Untuk setiap hari Jum’at, itu hari Liburnya kami dari KBM, yap sebagian diantara kami, ada yg me refresingkan diri, jalan2 ke kota Ponorogo, dengan syarat mendapat persetujuan dari Ustadz Pengasuhan Santri, biasanya jam 4 atau 5, sudah berada di Pondok kembali.

Masalah makanan, kami biasanya memakan SATE. Wow…Elite banget ya tiap hari makan SATE. Yap “SATE” disini bukanlah daging yang ditusuk dan dibakar, akan tetapi SATE itu adalah SAyur dan TEmpe + sambel. hehehe. Telor dan Daging, kami hanya menikmati sekitar 1-2 x seminggu. -,-

Kebiasaan kami disini adalah, kami biasa minum air menggunakan piring, jadi setelah kami makan, kmudian piring kami cuci, dan didekat dapur ada semacam tempat penampungan air minum yg keluar dari keran untuk kami minum. Bahkan hari Jumat, biasanya Air itu disulap, menjadi Susu atau Sirup.

Dan selain itu, disini saya menemukan teknik baru dalam membuat Mie Goreng, yap tinggal direndem aja mie nya, ntah itu pake air panas, atwpun air biasa, kemudian ditiriskan, masukkan bumbu, aduk hingga rata, dan makan deh mie nya.

Seperti yg telah diketahui, disini kami tidak diperkenankan menonton TV, biasanya untuk selalu Update dgn berita, kami selalu membacanya melalui koran yg dipasang di dekat Ko’ah. Menonton TV pun itu hanya momen2 tertentu saja, seperti saat Final Euro 2004 kemaren, tapi saya ga ikut nonton. Yap itu semua berkat Alif, dkk.

Kegiatan disini, tidak hanya KBM, Tadarus, dsb. Disini juga banyak Ekskul, sesuai dengan bakat dan minat kami, bagi yg suka Jurnalistik, ada majalah Syams ( seperti tokoh “Alif” ), dsb. Namun, ada kegiatan ekstra yang wajib kami jalani tiap minggunya, yaitu Muhadhoroh ( pidato ), Pramuka, dan Lari Pagi.

Untuk Muhadhoroh, mungkin krn berawal dari sini, yg tadinya saya paling minder kalau bicara di depan org banyak, saya mulai terbiasa dgn situasi sperti itu. Ya walaupun terkadang, saya masih Nervous juga.

Bukan hanya itu, biasanya Gontor selalu punya Acara tahunan, seperti Pagelaran Pentas Seni “Panggung Gembira” oleh kakak kelas 6, dan “Drama Arena” bagi kelas 5. Panggung ini sangat Megah dan acaranya sangat meriah. Selalu kami tunggu2.

Selain itu, Gontor juga kerap kali kedatangan Tamu Penting, mulai dari tokoh2 Politik, hingga Syekh Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo.

Jadi, disini selalu full kegiatan.

Mungkin krn padatnya jadwal ditambah dengan cuaca dan iklim Ponorogo yang panas gersang, membuat saya kerap kali jatuh sakit. Dan saya sering dirawat inap di BKSM ( Balai Kesehatan Santri & Masyarakat ). Bahkan sampai pernah Izin Pulang Sementara untuk menjalani pengobatan di Bandung.

Akibat sering jatuh sakit ini, Ibu saya ga tega, dan menyarankan saya untuk “Aladawam” atau keluar dari Gontor utk selamanya dan melanjutkan pendidikan di sekolah Umum.

Awalnya saya sangat ingin bertahan di Pondok ini setidaknya hingga kelas 4, dan kemudian melanjutkan ke jenjang SMA.

Kegalauan antara bertahan atau pulang menggerogoti pikiran saya, Dan akhirnya krn mempertimbangkan kesehatan, sebulan menjelang ujian kenaikan kelas, saya akhirnya mengikuti kemauan Ibu dan Aladawam.

Yap. begitulah bedanya saya dengan tokoh “Alif”.

 

Alhamdulillah, Selama 1 Tahun 3 Bulan menjadi Santri Gontor, telah membawa perubahan karakter dalam diri saya. Menjadi Insan yang lebih mandiri, berani, dan percaya diri. Amiin

“Terima kasih saya ucapkan kpd kedua orang Tua saya, atas pengorbanannya selama ini. Dan maaf ( terutama ayah ), apabila selama ini Insan mengecewakan, dan tdk bisa mberikan apa yg Ayah harapkan.”

“Semoga ini jalan yg terbaik buat Insan, Insan yakin, kesuksesan bukan hanya dari Gontor semata, “Banyak Jalan Menuju Roma”, Apa yang Insan jalanin sekarang, smoga bs mengantar Insan menuju Masa Depan yg Cerah dan Sukses, yang bisa membuat Ortu bahagia dan bangga.Amiin”

Gontor memang bukan segala-gala nya, tapi Segala-galanya berawal dari Gontor.

Semoga bermanfaat dan menjadi Inspirasi untuk kehidupan yg lebih baik. Amiin

Nb: Mohon dikoreksi kalau ada kesalahan kosakata bhs.Arab, maklum jarang banget dipake, jd lupa2 ingat.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s