Wisdom of Gontor

Secara garis besar, buku yang berisi untaian kalimat yang diterjemahkan dalam kajian filosofis ini mampu menambah wawasan bagi para pembaca untuk mengaitkan permasalahan yang ada di Indonesia dengan topik kajian di buku ini. Contoh demi contoh digambarkan dengan lugas untuk mendapatkan kesimpulan yang bisa beragam namun tetap dalam ruang lingkup maksud dan tujuan topik tersebut. Dalam buku ini dicontohkan peristiwa yang cukup sensitif seperti peristiwa poso kemudian dikaitkan dengan peristiwa serupa dinegara lain untuk membuktikan bahwa agama merupakan sebilah pedang yang tajam (44).

Pada bab pertama dijelaskan tentang Berebut Kematian yang menggambarkan betapa antusiasnya kakak beradik pendiri gontor mencari kematian agar gontor lebih maju. Kata demi kata dirangkai agar pembaca mulai memikirkan kematian sebagai sesuatu yang tidak layak ditakuti.

Pada bab selanjutnya tentang Orang Baik, penulis membukanya dengan wejangan dari KH.Hasan Abdullah Sahal tentang orang baik yang begitu mulia. Dijelaskan kemudian dalam bab ini dengan beberapa contoh menggelitik yang jarang sekali terpikirkan kebanyakan orang pada umumnya namun tetap menjadi sesuatu yang layak dikemukakan. Seperti pembahasan tentang pendidikan bahwa Education Is Not Preparation For Life; Education Is Life Itself.

Selanjutnya tentang moto gontor dijelaskan pada bab ketiga, kebanyakan orang pada umumnya merasa bahwa moto gontor yang berbunyi Diatas Dan Untuk Semua Golongan terkesan sombong, namun penulis dengan bahasa yang mengalir berusaha merubah paradigma itu.Pada bab ke empat yang bertajuk keajekan. Penulis merasa bahwa gontor sekarang dan pada saat berdiri dulu mengalami beberapa perubahan, namun hal ini tidak merubah jati diri gontor itu sendiri. Ditegaskan pada pernyataan terakhir, keajekan dalam menyikapi setiap perubahan itulah kemodernan yang sesungguhnya.

Pernyataan KH, zainuddin fananie dinukilkan dalam bab kelima. Bahwa dalam menghadapi hidup ini, sikap kehati-hatian itu perlu, hal ini kemudian dikaitkan dengan peristiwa krisis ekonomi dunia. Penulis mengungkit kembali peristiwa yang menghantam dunia pada tahun 1936, krisis ekonomi menjadi dilema yang memporak-porandakan roda ekonomi dunia. Salah satu yang menyebabkan krisis itu muncul adalah karena tidak waspada dan tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. Pada akhirnya ditegaskan bahwa gontor membutuhkan pilot yang handal agar gontor tetap terbang diatas deru-deru krisis.

“Orang besar adalah alumni gontor yang mau mengajarkan ilmu dengan ikhlas meski ditempat terpencil dan dibalik bukit sekalipun”, begitulah kalimat K.H Imam Zarkasyi ketika dawam raharjo berkunjung kerumahnya. Hal ini menggugah pemikiran kita pada umumnya bahwa gontor dengan alumninya yang sohor dimedia merupakan orang-orang besar, namun tidak mendapatkan pemikiran yang serupa dari K.H Imam Zarkasyi. Pembahasan kemudian berlanjut tentang apa yang dimaksudkan dengan orang besar tersebut.

Pertengahan dalam pembahasan buku ini masih seputar pandangan umum masyarakat yang dianggap berbeda dengan pemikiran penulis. Buku ini menawarkan beberapa topik yang akan sering ditemui oleh orang yang hendak menjadikan buku ini sebagai pijakan dan ingin menyempurnakan tujuan dan maksud dari setiap pembahasan. Setiap pembahasan ditawarkan dengan mengkaitkan contoh dan mengajak kita agar berwawasan luas, itulah salah satu kelebihan yang terdapat dalam buku karya Tasirun Sulaiman ini. Salah satu hal yang menarik adalah kemampuan dia mengolah pesan dan wejangan guru-gurunya untuk diformulasikan dengan kenyataan yang ada. Dalam buku ini terdapat istilah dan kalimat asing yang cukup banyak, mungkin hal ini ditujukan agar maksud yang terkandung tidak terkonversi ke makna terjemahan.

Buku ini memberikan rasa percaya diri bagi alumni yang membaca dan menyelami isinya, kalimat pada pengantar seolah memberikan aura kehidupan yang hanya dimiliku gontor pada tatanan rakyat Indonesia. Bagi anda yang ingin mengerti gontor dan ruh dalam pembelajaran yang terdapat di pesantren ini, buku ini layak untuk dibaca dan pantas dimiliki oleh kalangan umur manapun.

Sumber artikel: http://muharsafa.blogspot.com/2009/12/wisdom-of-gontor.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s