Ujian (di Gontor)

Oleh: Hery Azwan

Mei 2009

Tadi malam di sebuah televisi ditampilkan acara yang menelusuri kecurangan dalam ujian nasional di pelbagai daerah. Bagaimanakah modusnya? Macam-macam.

Ada yang dengan cara membagikan pinsil yang sudah diselimuti selembar kertas contekan. Ada juga juga yang terang-terangan membagikan satu lembar contekan ke siswa, lalu menggilirnya ke siswa lain. Bahkan yang lebih parah, ada yang membacakan jawaban dan siswa tinggal menyalinnya.

Mengapa ini bisa terjadi? Alasannya pasti klise, agar marwah sekolah tetap terjaga. Jika banyak siswa yang tidak lulus, pasti sekolah juga yang kena getahnya. Tak akan ada lagi orangtua yang sudi menitipkan anaknya ke sekolah tersebut. Maka, dibuatlah persekutuan busuk tadi untuk mendongkrak nilai siswa.

Sebenarnya apakah tujuan ujian? Sejauh yang saya pahami, ujian bertujuan untuk mengukur apakah siswa sudah menguasai pelajaran yang diberikan selama periode waktu tertentu. Karena itu, ujian memang bersifat me-recall memori yang lalu. Tidak ada dalam ujian pertanyaan dari pelajaran yang belum diujikan.

Yang jadi masalah dalam Ujian Nasional adalah penyeragaman. Sebagaimana diketahui, siswa di seluruh Indonesia sangat beragam. Ada yang sekolahnya mahal sekali dan sudah dilengkapi fasilitas canggih, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang memprihatinkan karena ruang kelasnya seperti kandang sapi. Sementara, standar kelulusan diseragamkan. Soal yang dipakai didrop dari Jakarta. Padahal, guru kelaslah yang tahu bagaimana kapasitas siswanya, apa yang sudah dipelajari dan apa yang belum.

Saat saya “sekolah” di Gontor dulu, ujian dinantikan sebagai peristiwa luar biasa. Pada papan pengumuman di bawah mesjid, tertulis seperti ini dalam bahasa Arab atau Inggris: “Ujian akan tiba 30 hari lagi”. Setiap hari jumlah hari diupdate laksana count down American Top 40. Benar-benar seperti peristiwa sakral.

Dua minggu menjelang ujian, semua kegiatan ekskul seperti olahraga, kesenian dan keterampilan dihentikan. Semua energi dihimpun untuk menyukseskan ujian. Setiap malam, para guru berkeliling asrama laksana dokter yang sedang praktek. Setiap santri boleh bertanya semua pelajaran yang kurang dipahaminya.

Setiap malam, setelah listrik dimatikan (dulu masih pakai genset), kita dapat melihat suasana pondok seperti dirubungi kunang-kunang. Apa pasal? Banyak santri yang begadang dan menyalakan lampu teplok atau sentir sebagai pendukungnya. Mereka belajar hingga pagi, ditemani sekadar kopi dan kacang garing. Mie instant cukup dibuat dengan cara menyiram air panas ke bungkusnya (dulu belum ada popmie). Setelah itu bungkusan diikat dengan karet. Tiga menit kemudian, siaplah mie untuk disantap.

Ujian di Gontor ada dua, yakni ujian lisan dan tulisan. Ujian lisan biasanya berlangsung selama sekitar tiga hari sampai seminggu. Setiap santri berhadapan dengan dua atau tiga orang penguji dan harus menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris dan Arab untuk beberapa pelajaran utama. Sesi ujian lisan ini sering membuat santri sakit perut karena dicecar pertanyaan laksana sidang pengadilan. Sambil menunggu giliran ujian lisan, santri dapat mengulang pelajaran lainnya.

Pada ujian tulisan, yang cukup unik di Gontor adalah peraturannya yang sangat keras, yaitu “Barangsiapa ketangkap basah mencontek, maka ganjarannya adalah dipulangkan ke orangtua”. Di ruang ujian, siswa dari beberapa kelas digabung sehingga teman sebangku biasanya bukan teman sekelas, sehingga kemungkinan mencontek dari teman sebelah bisa diminimalisir.

Yang juga unik adalah tidak ada ujian bersistem muliple choice. Semua soal dalam bentuk essay, laksana anak kuliahan. Hal ini secara tidak langsung juga menutup kemungkinan untuk saling mencontek karena alangkah sulitnya mencontek banyak tulisan, bukan sekadar jawaban a, b, c atau d. Biasanya jumlah soal tidak terlalu banyak, sekitar 5 hingga 10 soal.

Ada kejadian menarik tentang ujian ini. Menjelang minggu tenang, saya biasanya belajar dengan menuliskan kembali beberapa kata kunci. Di Gontor kebetulan banyak pelajaran berbentuk hapalan, terutama yang berbahasa Arab. Saya biasa menuliskan hapalan saya di papan tulis saat kelas kosong.

Lama-lama saya berpikir, kenapa tidak menuliskan di buku tulis. Maka, saya mulai menuliskan ringkasan pelajaran di lembaran kecil kertas yang ukurannya sekitar seperempat dari buku tulis. Hurufnya saya tulis kecil-kecil sehingga dapat dibawa kemanapun saya pergi: sambil makan, sambil jajan, maupun sambil ngobrol. Saat ada waktu luang, saya membukanya, mungkin seperti orang sekarang yang sedang update status di facebook. Kata kunci tadi dapat mengingatkan saya konsep atau pengertian sebuah teori.

Eh, tidak dinyana, ada teman yang melihat ringkasan (khulasoh) ini cukup bermanfaat. Akhirnya dia mengkopinya dari saya. Tak lama, teman-teman lain ikut menggandakannya. Menurut kabar yang saya dengar, teman saya tadi akhirnya menjual ringkasan tadi ke seluruh santri setelah menggandakannya dengan cara foto copy. Rupanya ada yang melaporkan hal ini kepada guru BP. Akibatnya dia dipanggil dan disidang. Akhirnya dia dibotak. Kurang jelas apa salah dia. Bukankah dia hanya ingin menolong teman-teman lain?

Sebagian teman meniganalisa kalau guru BP melihat bahwa ringkasan tadi kurang mendidik karena santri akhirnya malas membaca buku, tapi hanya membaca ringkasan. Uniknya, aku sebagai pembuat ringkasan tidak dihukum atau bahkan dipanggil sekalipun.

Sumber: http://heryazwan.wordpress.com/2009/05/01/ujian/

 

Ujian Tulis

Tak terasa ujian tulis telah hampir selesai, mengakhiri satu bulan penuh ujian. Dimulai dari ujian lisan, selama sepuluh hari, diselingi beberapa hari libur, diteruskan ujian tulis, lengkap sudah ujian berjalan selama satu bulan di Gontor.

Suasana ujian tulis adalah suasana yang sakral: ujian ini bagi semuanya, setiap penghuni pondok memiliki ujiannya masing-masing.

Dimulai dari bangun pagi, yang menjadi lebih awal, karena waktu yang lebih banyak untuk belajar diperlukan, para santri memulai kegiatan. Setelah shalat subuh dan membaca Al-Qur’an, buku pelajaran kembali dipegang di tangan, ke mana pun, kapan pun.

Pukul tujuh kurang lima menit, bel berdentang serentak di seluruh penjuru Darussalam. Ujian dimulai. Tidak ada contek-mencontek, karena ujian di Gontor adalah suatu hal yang sakral. Dengan segala daya dan upaya, para santri menjawab soal ujian, sesuai kemampuan mereka. Bagi siapa yang telah mempersiapkan dirinya, tentu akan tenang menghadapi kertas soal yang mulai dibagikan para guru pengawas. Sebaliknya, yang kurang persiapannya, entah dia akan ketakutan melihat soalnya, kaget, kecewa, atau bahkan putus asa, menyesali kelalaiannya.

Ujian tulis memiliki warna tersendiri di Gontor. Warna yang muncul setiap enam bulan sekali, menciptakan miliu pendidikan khas Gontor bagi para santri.

Sumber: http://gontor.ac.id/catatan/ujian-tulis/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s