Pinter-pinter Kok Masuk Pondok

Oleh: Amir Hamzah

5 Maret 2010

Sering satu dua kali saya mendengar teman berkomentar. Ketika memanyakan kepada kami :”Putranya sekolah dimana?”, lantas kami menjawab :”Anak-anak kami di Pondok”. Lantas dikomentari :” Apa tidak sayang, putranya pinter-pinter kok dimasukkan pondok”. Biasanya kami tidak langsung menjawab. Tetapi kemudian kami mencoba membangun argumentasi kenapa anak-anak kami, kami serahkan ke Pondok. ALFA, anak pertama kami di Pondok Gontor- 1 Ponorogo, dan FATMA anak kedua kami di Gontor Putri-3 Ngawi. Alhamdulillah ALFA saat ini sudah tingkat akhir tinggal menunggu ujian. Kami bersyukur dan terharu melihat perkembangan ALFA, yang ketika kecil nakal, tidak mandiri. Sekarang nampak dewasa dan mandiri. Kami merasa semua itu berkat tempaan pondok yang super ketat, sarapan cuma sama sambel, ketemu lauk cukup seminggu sekali. Masjid GOntor I ini menjadi kenangan buat ALFA …

FATMA, juga alhamdulillah sudah krasan. Masuk pondok karena kemauan sendiri. Bahkan kami sebenarnya cukup sedih ketika harus berpisah setelah lulus SD. Terasa waktu berlalu begitu cepat… . Sekarang sudah hampir selesai klas 3. Pernah suatu waktu tidak krasan dan minta keluar. Ketika kami tanya alasannya karena ingin jadi Dokter, dan di Pondok tidak memberikan bekal untuk jadi dokter. Lalu kami bujuk dan saya ceritakan kisah anak putri teman saya yang keluar dari pondok kerana ingin jadi dokter, dan setelah keluar pondok, pindah SMA, setelah lulus SMA ternyata juga tidak dapat masuk Fakultas Kedokteran. Saya yakinkan bahwa Allah yang akan mengatur segalanya. Kalau memang ingin jadi Dokter, insya Allah, Pondok bukan halangan…Alhamdulillah FATMA dapat menerima argumen kami, dan sekarang sduah mulai enjoy lagi..

Saya cukup paham, bahwa kebanyakan kita menganggap pondok bukan pilihan masa depan yang baik, terutama untuk karir hidup seseorang. Bagi kebanyakan masyarakat, termasuk muslim, pilihan terbaik adalah, SMP favorit, SMA favorit dan Perguruan Tinggi favorit dengan jurusan favorit semacam KEDOKTERAN, TEKNIK, EKONOMI, PSIKOLOGI atau FARMASI. Alhamdulillah kami tidak lagi berprinsip seperti itu.

Sederhana saja argumennya, sebuah hadtis : “Kejarlah urusan akheratmu maka insya Allah urusan dunia akan mengikuti”. Aplikasi kami perdalam ilmu agama dengan benar, maka masalah kehidupan nanti serahkan kepada Allah. Mungkin bagi sebagian orang ini argumen konyol. Tetapi perjalanan hidup saya dan istri telah mengajarkan keyakinan seperti itu. Saya bilang sama istri, “saya ingin anak-anak masuk pondok bukan karena saya paksa. Saya ingin anak-anak memahami agama dan berjuang untuk agama ini dengan pemahaman yang tinggi. Saya tidak terlau peduli akan jadi apa anak-anak saya nanti. Dokter, Insinyur, Guru, atau profesi apapun… yang penting mereka ikut memperjuangakan agama ini…” demikian prinsip saya.

Kalau menuruti perasaan maunya anak-anak tetap bisa berkumpul, selama mungkin. Sedih menahan kangen… Tetapi dengan keyakinan justru dengan anak-anak jauh setiap saat kami berdoa untuk mereka. Dan saya yakin mereka berdoa untuk kami. Lain dan belum tentu itu terjadi ketika mereka anak-anak selalu bersama kita………Ya Allah semoga Engkau menjaga mereka dimanapun mereka berada. Amin!

5 Juni 2011

Serasa waktu berjalan sangat cepat. Hanif (Aik) menyusul kakak2nya menjadi capel di Gontor 2 sejak 2 Juni 2011. Berat rasanya berpisah…, lebih berat daripada ketika Alfa ke Gontor 5 tahun lalu, karena Alfa sudah lulusan SMP, sementara Aik baru lulus SD (malah belum lulus… karena belum pengumuman, baru tanggal 18 Juni 2011). Terngiang komentar teman 5 tahun lalu ketika saya memasukkan anak ke Pondok Pesantren, “pinter-pinter kok masuk Pondok”. Tidak banyak memang teman se sekolah Aik yang ke Pondok, kebanyakan ke SMP-SMP favorit, meskipun harus dag-dig-dug dengan NEM. Aik terdaftar sudah pada urutan 703, dari target (katanya 2500 siswa).

Menyaksikan Aik tidur di kasur lipat (di kamar 8×8 m diisi 40 orang), makan sederhana, dan mulai rutin untuk selalu antre… rasanya ayah dan ibu tak tega dan selalu ingin menitikkan air mata. Tetapi menyaksikan latihan disiplin super ketat 5 kali sehari, sholat berjamaah bersama ratusan dan mungkin nanti ribuan siswa lain, main bola, olah raga berbagai rupa, latihan pidato, dan kebersamaan dengan teman sebaya seluruh Indonesia (bahkan ada yang dari luar), rasanya jadi terhibur kesedihan berpisah dengan Aik.

Meskipun dibanding teman-teman lain yang maunya ditunggu beberapa hari, Aik hanya ditunggu ibunya semalam, dan ditunggu Bapaknya 2 malam sudah mau ditinggal. Malah orang tuanya yang tidak tega dan ditega-tegakan. Tapi ini tentu tak ada istimewanya, karena hampir semua orang tua mengalami perasaan yang sama. Tentu akan lebih berat jika berasal dari luar jawa. Semua orang tua memiliki harapan yang sama, agar anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah… hanya cara mereka menempuh dan ikhtiar memang berbeda-beda…

Ya Allah lindungilah anak-anak ini, dan jadikanlah mereka para pejuang-pejuang agamaMu… dimanapun nanti mereka berada. Karena sesungguhnya kami sadar bahwa… anak-anak kami hanyalah amanatMu… maka kami kembalikan mereka dalam lindunganMu dan penjagaanMU… Amin…Ya rabbal ‘alamin…..

14 Juli 2011

“Kok mau ya putranya masuk pondok?”, “gimana sih caranya?, sebenarnya saya juga pengin anak saya masuk pondok”. “Anak saya nanti juga akan saya masukkan ke Pondok, kalau gak ketrima di Negri”. “Dari pada nggak sekolah, anak saya ya di pondok saja”. Demikian kalimat-kalimat yang sering saya dengar, jika saya atau istri ditanya, anaknya sekolah di mana?, dan di jawab sekolah di Pondok.

Saya pernah “iseng” menguji “tekad” anak saya ke-3, yang juga sedang menjalani CAPEL di Gontor sejak 2 Juni 2011, begini. “Nif, andainya NEM kamu 30, nilainya 10 semua, apa kamu juga tetap akan ke Gontor? Nggak pengin ke SMP 5?? SMP negeri paling TOP di Kodya Yogya, dan jadi impian sebagian besar anak-anak SD dan para orang tua”. Jawaban anak saya membuat kami haru, “Ya, saya tetap akan masuk Pondok”. Ketika Aik kami tanya, “emang cita-citamu mau jadi apa sih?” , saya coba menirukan orang yang suka meremehkan pondok dan bertanya “Sekolah di Pondok itu nanti mau jadi apa sih?”. Jawaban Aik menambah haru :”SAYA MAU JADI ULAMA !!!”.

Ketika pengumuman UNAS SD dibuka, dan kami menerima berita NEM, alhamdulillah NEM Aik :28,10 (IPA 9,75, Matematika 9,75 dan B.Indo 8,60) tiket yang aman untuk SMP 5. Ketika saya bawa pengumuman itu saya bawa ke AIk di Gontor, saya goda :”Ik, bisa masuk SMP 5 lho?, gimana??”. Jawab Aik :”Saya sudah mantap dan enjoy Pak disini, doakan saja!”….

Sumber:

http://miramzaha.blogspot.com/2010/03/pinter-pinter-kok-masuk-pondok.html

http://miramzaha.blogspot.com/2011/06/pinter-pinter-kok-masuk-pondok-2.html

http://miramzaha.blogspot.com/2011/07/pinter-pinter-kok-masuk-pondok-3.html

6 thoughts on “Pinter-pinter Kok Masuk Pondok

  1. cerita yang menyentuh.. salam kenal, putra saya yg pertama juga di gontor1.. semoga anak2 senantiasa diberi kemudahan dan kesabaran dalam menuntut ilmu.. ijin share ya..

  2. “Saya cukup paham, bahwa kebanyakan kita menganggap pondok bukan pilihan masa depan yang baik, terutama untuk karir hidup seseorang. Bagi kebanyakan masyarakat, termasuk muslim, pilihan terbaik adalah, SMP favorit, SMA favorit dan Perguruan Tinggi favorit dengan jurusan favorit semacam KEDOKTERAN, TEKNIK, EKONOMI, PSIKOLOGI atau FARMASI. Alhamdulillah kami tidak lagi berprinsip seperti itu.

    Sederhana saja argumennya, sebuah hadtis : “Kejarlah urusan akheratmu maka insya Allah urusan dunia akan mengikuti”. Aplikasi kami perdalam ilmu agama dengan benar, maka masalah kehidupan nanti serahkan kepada Allah”

    kata kata yang mengobati kegundahan hati, semoga putra putrinya, menjadi qurrota a’yun di dunia dan akhirat. amiin. salam kenal.

  3. ketika semua bekerja keras,berusaha serta berdoa tiada putus demimendapatkan putra putri terbaik,bermanfaat tidak akan ada kata menyesal mengirim anak ke gontor……….hati seorang bunda memang terlalu halus untuk melihat kerasnya didikan pondok……tapi itu semua terbayar ketika melihat sosok anggun bersahaja,sopan dlm bertutur kata,serta tegar dan mandiri dlm kehidupan tanpa sedetikpun melupakan kwajiban sebagai hamba kpd penciptanya jauh…dan jauh dari sosok manja,malas dan kekanakan ibarat menemukan oase di padangpasir tandus………..

  4. Terima kasih tulisannya..very touching! Saya berlinang air mata membacanya. Saat me-reply ini, saya sedang menanti pengumuman hasil ujian masuk Gontor Putra Ponorogo. Saat2 yang menegangkan..sekaligus mengharukan..ditambah tulisan Anda yg sangat me- representing my feeling for my daughter and son yang berada di Gontor sekarang….

    Salam kenal..

    Wassalam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s