Pengalaman Walisantri Baru 1

Oleh: Zaimatul Munawwaroh

31 Juli 2011, diambil dari komentar http://imambachtiar.wordpress.com/2010/09/17/bagaimana-belajar-di-gontor/

Assalamu’alaikum, sebelumnya saya ingin mengucapkan puji syukur yang luar biasa kehadirat Alloh SWT. AlhamdulillahiRobbil’alamin atas kemurahanNya hingga hari ini kita msh di beri kesempatan untuk menyambut bulan suci Romadlon, dan semoga kita juga diperkenankan untuk meneguk indahnya Romadhon dalam amalan-amalan ibadah secara optimal. Amiin.

Dan kebahagian saya yang lain adalah anak pertama saya diterima/lulus ujian penerimaan calon santri di gontor 2 putra, dan ditempatkan di Gontor 1… Subhanalloh saya yakin sekali semua ini tak lepas dari “Campur Tangan ” Alloh SWT. Saya ingin sedikit berbagi pengalaman dalam forum ini, semoga bermanfaat untuk saudara-saudaraku yang juga ingin mengikuti jejak kami. Kami tinggal di Balikpapan Kaltim. Dengan 2 orang putra, yang pertama kelahiran th 1996 (AIR) dan yang kedua kelahiran tahun 2000.

Berawal kekhawatiran saya sebagai ibu yang melihat pergaulan anak-anak sekarang. Saya dan suami berkomitmen untuk menyekolahkan anak di sekolah muslim, seperti SDIT. Alhamdulillah prestasi secara akademis maupun akhlaq cukup terbina, termasuk hafalan-hafalan surah pendek. Bahkan beberapa kali anak pertama kami menjuarai kompetisi-kompetisi Matematika, terakhir mewakili Kaltim Olympiade tingkat Nasional. Meskipun belum mencapai juara nasional, tapi pengalaman dan perjuangan AIR sangatlah berharga. Hingga pernah ada tawaran biasiswa sekolah “P” yang cukup bonafid di Indonesia ada 5 cabang. Tapi karena suatu alasan kami tidak bisa menerimanya. Ketika masuk SMP bapaknya menyarankan untuk memasukkan AIR ke SMP N yang favorit di kota kami di kelas RSBI.

Tapi ada sesal mendalam dihati saya, ketika menyadari lingkungan anak saya jauh berbeda, hafalan-hafalan mulai hilang, jam pelajaran agama di sekolah pun jauh dari kata cukup, sholat fardhu mulai suka telat-telat bahkan kadang saya sebagai ibu harus rajin-rajin mengingatkan.

Saya selalu memotivasi anak saya, bahwa hidup itu tidak mudah, tantangan yang dihadapinya pun tidaklah mudah. Tapi jika dia bisa membentengi diri dan melawan arus… Subhanalloh itu baru berhak mendapat acungan jempol. Hingga 3 tahun dilaluinya dengan prestasi akademis yang memukau. Suatu saat saya memberi dia wacana. ”Mas, pengen gak bisa dapat beasiswa dan sekolah ke luar negeri?”. Padahal dalam hati saya sangat ingin AIR “Mau” saya masukkan ke ponpes Gontor. Kemudian saya belikan dia buku NEGERI 5 MENARA yang karangan anak Gontor dari pengalaman pribadinya, tanpa ada yang saya tutup-tutupi sedikit pun, ya itulah kehidupan di gontor.terkadang ada bab-bab tertentu dari buku tersebut yang dia protes ke saya…”Kok gini ???….Kok gitu ???” Tapi ya begitulah adanya!!! Sy melihat ekspresi wajahnya ketika membaca kadang tertawa lucu, kadang cemas, kadang tertantang…Pokoknya seru.. Hehehe saya jadi ikut tertawa.

Awalnya ketika AIR menyatakan kesanggupannya untuk ke Gontor saya masih ragu, beneran gak ya? Apa lagi saya belum berani bilang ke bapaknya, karena saya yakin bapaknya kurang setuju (suami lebih memikirkan masa depan secara akademis). Hingga disemester akhir saya baru mulai memancing pembicaraan tersebut ke suami, dan reaksinya tepat seperti dugaan saya, bukan cuma suami, keluarga orang tua dari pihak suami tidak ada yang setuju (Alhamdulillah dari pihak keluarga saya gak masalah). Sampai-sampai suami saya berulang kali menanyakan atau konfirmasi ke AIR untuk memastikan bahwa itu murni keinginan dia dan bukan paksaan saya. Alhamdulillah Alloh meneguhkan hati anak saya. Hingga rencana awal hanya saya yang akan mengantar AIR untuk mendaftar, akhirnya suami dan anak kedua saya juga ikut.

Allohu Akbar… Ketika kami mendaftar di GONTOR 2,suami saya melihat sendiri aktivitas dan “keunikan” cara pembelajaran di sana, justru suami jadi sangat mendukung, bahkan adiknya AIR pun semangat sekali, berulang kali merengek untuk nanti di sekolahkan juga di Gontor…. InsyaAlloh. Amin.

Demikian sekelumit pengalaman dari saya, semoga menjadi motivasi bagi ibu-ibu yg lain, satu hal yang sangat saya tekankan DO’A Ibu, bapak akan sangat berarti bagi keberhasilan putra putri kita InsyaAlloh. HuAllohu’alam bissawab. Jika ada lebih kurangnya saya mohon maaf dan selamat menunaikan ibadah puasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s