Melawan Tradisi Menyontek di Gontor, Penyontek Diskors Setahun

Fernan Rahadi ed: Budi Raharjo

29 Maret 2012

Jangan coba-coba menyontek. Bila tertangkap tangan, pelaku akan langsung diskors selama setahun. Nilai seluruh materi pelajaran di semester itu pun akan dihanguskan.

Tak cukup sampai di situ, nama pelaku yang berbuat curang juga diumumkan di masjid melalui pengeras suara. Tak ayal, sekitar 4.500-an peserta didik akan mendengarnya. Bisa dibayangkan betapa malunya si penyontek.

Itulah cara yang diterapkan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, untuk menghukum si penyontek. Sanksi memang dibuat demikian berat agar tak ada santri yang coba-coba melakukannya.

”Hanya dua dari 4.500 santri yang menyontek sepanjang lima tahun ini,” kata Wakil Direktur Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) Ustaz Nur Hadi Ihsan saat dihubungi Republika, Kamis (16/6).
Di Institut Studi Islam Darussalam Gontor, nilai-nilai kejujuran diutamakan. Santri selalu ditanamkan ajaran bahwa ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian. Bil imtihani yukromul mar’u aw yuhanu. Dengan ujian, seseorang akan mendapat kemuliaan atau yang paling tragis kehinaan.

Peserta ujian akan merasa malu jika tidak naik kelas dan hina jika menyontek. Sedangkan mereka yang lulus dianggap mulia. Nur Hadi mengatakan, ujian dibuat untuk menciptakan tradisi belajar dan menambah pengetahuan.

Siswa dituntut bertanggung jawab menghadapinya dengan jantan, bukan berlaku pengecut dan curang. Penanaman nilai-nilai seperti ini membuat santri yang diketahui menyontek hanya kurang dari 0,5 persen.

Menurut Nur Hadi, modus menyontek banyak ragamnya. Ada siswa yang melakukannya dengan membawa lembaran rangkuman pelajaran. Lembaran itu diletakkan di kantong. Saat ujian lembaran dikeluarkan dan diletakkan di balik lembar jawaban atau lembar soal. Ada pula santri yang menuliskan rangkuman pelajaran di meja ujian.

Cara lain, santri pura-pura buang air kecil ke toilet. Ketika masuk toilet, dia membuka buku untuk menyontek. Namun pengelola pondok telah mengantisipasi aksi tipu-tipu itu. Di ruangan ujian, dua siswa kelas akhir dan satu orang ustaz terus mengawasi peserta ujian. ”Mereka diharamkan duduk,” kata Nur Hadi.

Pakaian, wajah, meja, dan berbagai barang di ruang ujian diamati terus. Guru piket juga diterjunkan mengawasi toilet. Santri boleh saja buang air kecil saat ujian, tetapi sangat disarankan untuk tetap di dalam ruang ujian. Mereka dipersilakan buang air kecil sepuasnya sebelum ujian dimulai.

Tak hanya siswa yang dijaga ketat. Soal ujian pun sangat dijaga. Nur Hadi menyatakan, hingga kini belum pernah terjadi kasus soal ujian bocor sebelum diujikan. Tradisi menjaga kejujuran dan belajar keras memang sudah diciptakan sejak awal berdirinya Pondok Modern Gontor pada 1926.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Haji Marsudi Syuhud menyatakan, tidak ada tradisi menyontek di pesantren. Nihil menyontek bisa terjadi karena yang dicari di pesantren adalah ilmu.

Pesantren juga memiliki tradisi yang mengakar sejak dulu. ”Yang dicari bukan ijazah atau kelulusan semata,” kata Kiai Marsudi. Belajar untuk mendapatkan ijazah, katanya, bisa memunculkan sontek.

Karena itu, kiai selalu mengajarkan lebih baik orang berilmu daripada berijazah atau lulus ujian karena menyontek tetapi tidak ada ilmu. Dengan prinsip yang ditanamkan demikian, jangan heran menemukan santri yang rela tak naik kelas karena menyadari dia belum pantas naik kelas.

Menyikapi kasus menyontek yang kerap ditemukan saat Ujian Nasional (UN), Marsudi berpesan jangan harap menanam rumput ingin tumbuh padi. Tapi, tanamlah padi maka rumput akan dengan sendirinya tumbuh. ”Jangan berharap mendapatkan ijazah juga mendapat ilmu. Tapi, dapatkan ilmu maka dengan sendirinya ijazah di genggaman tangan”.

Ketua Umum Forum Guru Independen Indonesia (FGII) Suparman mengatakan, sontek merupakan sesuatu yang diharamkan. Dia berpendapat, sistem pendidikan dievaluasi agar penyakit sosial ini bisa diberantas. Dia mempertanyakan sistem ujian yang menggunakan sistem terbuka (open book) karena bisa memicu contek.

Suparman juga menyesalkan adanya kepentingan politik dari pemerintah daerah yang menginginkan prestasi siswa-siswi di daerahnya bagus. Menurutnya, pendidikan tidak boleh ditentukan oleh nilai akhir saja karena nilai proses juga penting.

Sumber: http://donisambit.blogspot.com/2012/03/payudara-pun-bisa-jadi-airbag.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s