Ijazah (di Gontor)

Oleh: Vizon

Gara-gara baca postingan Hery Azwan soal ujian, aku jadi ingin bercerita soal pengalaman belajar di Gontor juga.

Di awal kehadiranku di sana, Pak Kyai sudah mewanti-wanti bahwa Gontor tidak memberikan ijazah. Kalau mau belajar di sini dan siap tidak berijazah, silahkan teruskan, bila tidak sudi, silahkan belajar di tempat lain.

Waw..! ketika itu aku sedikit ragu untuk meneruskan langkah belajar di sana. Sempat terpikir untuk kembali pulang. Tapi, demi mengingat perjuangan berat yang kulalui hingga akhirnya bisa sampai diterima di Gontor, membuat tekadku membaja; “aku harus terus maju, sekali layar terkembang, bersurut aku berpantang“. Aih.. semangat kali, hehehe…

Seiring berjalannya waktu, aku menikmati kehidupan nyantriku. Segala kegiatan kuteguk dengan rakus, bagaikan musafir yang kehausan di tengah padang pasir. Kesenian, kepramukaan, organisasi, keterampilan, marching band, semua kuikuti, kecuali olahraga. Untuk olahraga, di samping karena aku kurang suka, aku juga tidak punya cukup waktu lagi, karena kegiatan lain sudah menyita waktu… halah alasan, bilang aja malas…! hehehe….

Hampir dapat kupastikan, semangat itu muncul karena pompaan motivasi dari Pak Kyai yang hampir setiap saat kami dapatkan. Di antara yang paling aku ingat adalah: “ijazatuka kafa’atuka” (ijazahmu adalah kemampuanmu). Artinya, ijazah yang sesungguhnya itu terletak di kemampuan yang kita miliki, dan itu tidak bisa dipalsukan oleh siapapun, tidak sama dengan ijazah dalam bentuk secarik kertas, yang akan dengan gampang diduplikat oleh siapa saja.

Agaknya, motivasi itu pulalah yang membuat seluruh santri mengikuti berbagai kegiatan dengan sungguh-sungguh, tanpa peduli dengan selembar sertifikat. Yang penting, punya kemampuan!

Karena keasyikanku mengikuti semua proses pendidikan, aku luput dari memikirkan masa depanku. Yang kumaksud adalah, kalau memang Gontor tidak memberi ijazah, lantas nanti kalau aku mau kuliah bagaimana? Aku sama sekali tidak memikirkan itu, sampai aku menyandang gelar alumni. Sementara, teman-temanku sudah mempersiapkannya sedari mereka nyantri, yakni dengan mengikuti ujian persamaan atau tetap mendaftarkan diri di sekolah-sekolah di kampung mereka. Aku…? benar-benar tidak mempersiapkannya. Aku pulang dari Gontor hanya bermodalkan selembar surat keterangan, bukan ijazah. Ijazahku ada di otak dan tubuhku.

Ketika status alumni sudah kusandang, aku mulai kebingungan, kemanakah aku akan melanjutkan studi? Kucari segala info. Di IAIN yang ada di Jawa, terutama Jogja dan Jakarta, tidak bisa menerimaku. Sebetulnya aku ingin sekali kuliah di dua kota itu. Singkat cerita, akupun terdampar di kota Padang.

Ternyata, IAIN Padang sama sekali tidak mempermasalahkan surat keterangan yang kumiliki. Akupun diterima kuliah di sana. Sampai akhirnya aku menjadi sarjana, ijazahku sama sekali tidak dipermasalahkan. Bahkan, ketika aku melanjutkan S2 dan diangkat menjadi PNS, ijazah sekolah menengahku tidak pernah ditanyakan. Apakah aku beruntung? Entahlah. Tapi yang pasti, beberapa temanku juga mengalami hal yang sama denganku.

Karena pengalaman inilah , maka di setiap kesempatan bertemu mahasiswa, aku selalu katakan petuah Pak Kyai tadi: “ijazatuka kafa’atuka” (ijazahmu adalah kemampuanmu). Maka, jangan melakukan segala cara demi meraih nilai-nilai palsu di secarik kertas yang bernama ijazah. Apakah mereka terbakar semangat dengan itu? Aku tidak tahu.

Terakhir, aku mau ucapkan: “Selamat Hari Pendidikan Nasional”, semoga generasi muda kita semakin memahami makna sebuah ijazah.

Nb

Dulu, Gontor memberikan kepada setiap alumninya semacam surat keterangan (ijazah) menyelesaikan studi di sana, tapi bukan ijazah yang dikeluarkan Diknas. Sehingga, kami tidak bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Biasanya, “ijazah” kami itu diterima di perguruan tinggi di Timur Tengah.

Dengan bergulirnya waktu, Gontor tetap berpegang teguh pada pendiriannya, sampai akhirnya negara sendiri yang mengakuinya, dan pada tahun 1998, Mentri agama dan Mendiknas mengeluarkan SK yg menyatakan kalau ijazah Gontor disamakan dengan tamatan SLTA lainnya dan bisa diterima di perguruan tinggi negeri baik umum maupun agama. Oleh karenanya, alumni gontor setelah tahun 1998 itu mendapatkan ijazah yang diakui negara, sehingga alumni gontor saat ini banyak kuliah di fakultas-fakultas umum…

Namun, sungguhpun demikian, filosofi ijazah tetap dipegang teguh oleh gontor sampai saat ini. Mudah2an sampai kapanpun ya…

Sumber: http://surauinyiak.wordpress.com/2009/05/02/ijazah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s