Kala Mantra Harry Potter Diajarkan Di Gontor

Oleh: Ahmed Tsar Blenzinky

12 Maret 2012

Dulu Jual Mengkudu, Sekarang Jual Rambutan / Dulu Tidak Laku, Sekarang Jadi Rebutan

Pantun itu terlontar dari Ahmad Fuadi dalam acara Provoactive di Hard Rock Radio (06/03) ketika menanggapi sebuah SMS dari pendengar, “Cita-citaku, Jadi Istri lulusan Gontor.” Spontan Pandji Pragiwagsono (penyiar pemandunya) tertawa lepas mendengar pantun dari pengarang novel Negeri Lima Menara itu. Saya pun yang mendengarkannya juga ikut mesem-mesem. Dipikir lebih jauh, iya juga ya rerata lulusan Gontor jadi rebutan. Rebutan dalam arti diingini banyak orangtua untuk dijadikan calon mantu atau banyak orang memperhatikan hasil / karya seorang lulusan Gontor. Kedua arti rebutan itu kalau ditelisik lebh jauh lagi akan bermuara pada kepiawaian seorang lulusan Gontor dalam memanfaatkan ilmu yang didapat dari Pesantren tersebut.

Orangtua mana yang tidak terpesona bila melihat calon mantunya pintar mengaji atau mengabdi pada masyarakat, misalnya.  Atau, contohnya kita dapat lihat dari Ahmad Fuadi sendiri. Dulu mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang mengenal lelaki lulusan Gontor tahun 1992 itu. Sekarang setelah dia memanfaatkan ilmunya melalui karya novel, banyak orang mengenalnya. Tidak hanya terkenal, pria berkacamata itu diundang kemana-mana apalagi setelah versi film novelnya diluncurkan.

Ternyata kunci untuk menjadi setidaknya rebutan perhatian publik ialah, “Orang besar adalah yang mengamalkan ilmunya dengan berbagi kepada setiap individu di mana saja dengan ikhlas .” Ini adalah definisi orang besar menurut Gontor yang dipaparkan novelis kelahiran Maninjau Sumatera Barat itu. Dengan kalimat lain, paling tidak ada semangat pengabdian yang mengawali (baca: menjadi niat awal) setiap orang lulusan Gontor untuk mengamalkan ilmunya di masyarakat.

Lagi-lagi Pandji dalam acara radio tersebut dibuat terperangah dengan paparannya. Pertanyaan yang kemudian diajukan oleh Pandji adalah: “Kenapa semangat pengabdian begitu kuat tertanam pada setiap alumni Gontor, ya walaupun tidak semuanya?” Saya yang menyimak acara tersebut juga penasaran pengin tahu jawabannya. Soalnya, memang rerata orang yang saya kenal dari lulusan Gontor mempunyai daya juang pengabdian. Contoh salah-satunya Kompasianer Naim Ali yang jadi relawan sekaligus penggagas Taman Bacaan Mahanani.

Nah ternyata rahasianya terletak pada pendidikan karakter yang diajarkan Gontor. “Bagi Gontor pengalaman di kelas itu hanya sebagian kecil dari pengajaran karena di luar kelas banyak lagi pendidikan karakter yang di dapat para santri. Contohnya, Gontor sengaja mendesain dalam satu kamar yang memuat 20 sampai 30 orang, berisi dari berbagai suku. Nah kemudian dalam satu kamar itu, mereka membentuk kepengurusan kamar yang bertujuan agar mereka bertanggung jawab,” ujar pria yang pernah meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010  itu.

Gontor Dalam Film

Lebih jauh saya paham rupanya selama 24 jam di Gontor, para santri akan terus mendapat pendidikan karakter. Ya karena selain mendapat di kelas dan kamar, pendidikan karakter juga diperoleh melalui kegiatan ekstra kurikuler. Dan setiap santri yang mengikuti satu kegiatan ekstra kurikuler, pasti akan bertemu dan berkumpul dengan para santri yang berbeda dengan yang berada di kamarnya. Uniknya, setiap santri harus merasakan menjadi ketua dalam mendapatkan pendidikan karakter itu, bisa jadi ketua kamar atau ketua organisasi ekstra kurikuler. Itu satu.

Kedua, Kenapa semangat pengabdian begitu kuat tertanam pada setiap alumni Gontor ya karena teknologi pendidikan di dalam kelas. “Ada satu pelajaran namanya Mahfudzot atau bisa disebut juga kata-kata mutiara. Kata-kata mutiara yang pertama diajarkan adalah Man Jadda Wa Jada. Cara pengajarannya juga unik, diteriakkan oleh gurunya, dan semua orang berteriak mengikutinya sampai suaranya habis. Itulah teknologi pendidikan yang modern karena disebutkan, diulang, di dengar dan dituliskan. Nah itu semua menggunakan segala pancaindera,” kata Ahmad Fuadi kepada Pandji.

Saya yang masih mendengar dialog itu, langsung teringat segala adegan di film Negeri Lima Menara. Apa yang dibahas dalam acara Provoactive On Radio bersama Ahmad Fuadi hampir semua terekam dalam setiap adegan N5M. Pertama adegan provokasi yang mengambarkan cara pengajaran Gontor yang unik. Tiba-tiba saja guru (yang dperankan oleh Donny Alamsyah) masuk ke dalam kelas dengan membawa parang dan sebilah bambu. Setelah memperkenalkan sebentar, mendadak guru itu membabat bambu yang dipegangnya. Jelas saja semua murid baru yang berada di kelas tertegun. Babatan pertama, kedua, ketiga dan seterus tidak mempan membelah bambu. Baru babatan yang kesekian kali mampu membuat bambu terbelah dua.

Memang adegan itu penuh dramatisasi. Tapi itulah pengajaran yang efektif karena melibatkan emosi para siswa. Nah baru setelah berhasil membelah bambu, mendadak guru meneriakkan mantra Man Jadda Wa Jadda. Spontan para murid pada bengong. Tapi itu hanya sebentar setelah si guru mengulangi mantra itu dengan lantang barulah para santri mengikuti teriakannya dengan semangat.

Adegan kedua yang mendeskripsikan apa itu orang besar tergambar ketika Ikang Fauzi (yang menjadi Kyai Rois dalam film itu) memberikan arahan atau wejangan pertama pada para santri baru. Di sini menurut saya unik juga, mengapa crew film N5M memilih Ikang Fauzi untuk berperan sebagai kyai pengasuh. Ternyata antara suami Marissa Haque dengan dua pengasuh Gontor saat ini, sama-sama piawai memainkan alat musik. “Kyai Hasan Abdullah Sahal bisa main Bass, sedangkan Kyai Abdullah Syukri Zarkasy jago main Drum,” Begitu tutur A Fuadi masih dalam program Provoactive On Radio.

Lalu pengambaran tentang pendidikan karakter dan tanggung jawab mengambil porsi adegan paling banyak. Misal adegan di saat Alif (diperankan oleh Gazza Zubizzaretha) dan lima temannya ketika membetulkan genset. Awalnya Atang (dimainkan oleh Rizki Ramdani) yang mempunyai inisiatif membetulkan itu. Lalu datanglah mereka berlima ke rumah Kyai. Hasilnya, mereka justru yang harus bertanggung jawab membetulkan genset itu karena “inisiatif tanpa dibarengi solusi sama saja bohong.”

Satu lagi adegan yang menggambarkan pendidikan karakter dan tanggung jawab, yaitu ketika mereka berlima (tanpa Baso yang sudah pulang ke daerah asalnya) mementaskan teater tentang Ibnu Batutah. Kekompakan mereka dari awal proses produksi teater sampai pementasannya tergambar jelas dalam film N5M.

Asrama Hogwarts

Masih tetap dengan keterpukauannya dengan paparan A Fuadi, Pandji di akhir acara menyimpulkan: “Sistem pendidikan di Gontor mungkin bukan yang terbaik, tapi mempunyai identitas jelas.” Lalu, Pandji pun menyamakan Gontor dengan asrama Hogwarts  tempat di mana Harry Potter tinggal dan belajar sihir. “Kalau di Hogwarts, ada figur yang disegani bernama Dumbledore dan diajarin mantra Expecto Patronum misalnya. Nah kebetulan juga di Gontor ada Kyai dan diajarkan Mantra, salah-satunya, Man Jadda Wa Jada. Bedanya kalau mantra dalam film Harry Potter itu ditujukan untuk orang lain, tapi di Gontor ditujukan untuk diri sendiri.”

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/12/kala-mantra-harry-potter-diajarkan-di-gontor/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s