Sejarah Gontor

Oleh: Nida

15 Desember 2007

Siapa sih yang nggak tau Gontor?? Pondok ini sudah mencetak ribuan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia. Banyak alumni yang sukses dan menjadi tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan, pangusaha, bahkan artis [eh..denger-denger vokalis ‘kangen band‘ jebolan gontor loh…hihi..bener nggak yah??]. Bukan hanya alumni, Pondok Gontor sendiri sudah berdiri di banyak kota. Ini karena cita-cita  Gontor adalah mendirikan seribu Gontor. Dua hari yang lalu, aku mau menulis profile Gontor untuk bahan skripsi. Dari beberapa buku yang aku punya, lalu aku rangkum, dan inilah sedikit sejarah Gontor.

Pondok Tegalsari

Pada abad ke-18, hiduplah seorang Kyai besar bernama Kyai Ageng Hasan Bashari atau Besari di desa Tegalsari. Tegalsari adalah sebuah desa terpencil lebih kurang 10km ke selatan Ponorogo. Di sinilah Kyai Ageng mendirikan sebuah pondok yang di kenal dengan Pondok Tegalsari. Dalam sejarah, Pondok ini pernah mengalami masa keemasan dan menyumbangkan jasa yang besar dalam pembangunan bangsa indonesia. Ribuan santri datang menuntut ilmu di pondok ini termasuk di antaranya adalah Paku Buana II atau Sunan Kumbul, Raden Ngabehi Ronggowarsito dan tokoh pergerakan nasional H.O.S Cokroaminoto.

Setelah Kyai Ageng Hasan Bashari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh yaitu Kyai Hasan Yahya. Demikianlah Pesantren Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. Namun pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Bashari, Pesantren Tegalsari mulai surut. Saat kepemimpinan Kyai Khalifah, ada seorang santri yang sangat menonjol dalam segala bidang. Namanya sulaiman Jamaluddin. Karena kedekatannya dengan Kyai maka Sulaiman diangkat menjadi mantu bahkan dipercaya untuk mendirikan pesantren sendiri di Desa Gontor.

Pondok Gontor lama
Gontor adalah sebuah desa yang terletak kurang lebih 3 km sebelah timur Tegalsari. Pada saat itu Gontor masih merupakan hutan belantara yang jarang didatangi orang. Hutan ini dekenal sebagai tempat persembunyian perampok, penjahat, penyamun dan pemabuk. Jelasnya, tempat ini adalah tempat kotor dan sumber dari segala kotoran. Dalam bahasa jawa, tempat yang kotor disebut nggon kotor, yang disingkat menjadi “gon-tor“. Di desa inilah Kyai Sulaiman Jamaluddin diberi amanat untuk merintis pondok pesantren seperti Tegalsari dengan bekal 40 santri. Pondok inilah yang menjadi cikal bakal dari Pondok Modern Gontor saat ini.

Pondok yang didirikan Kyai Sulaiman berkembang pesat, khususnya ketika dipimpin oleh putra beliau, Kyai Archam Anom Besari. Setelah Kyai Archam wafat, pondok dilanjutkan oleh putranya yang bernama Kyai Santoso Anom Besari. Kyai Santoso Anom Besari adalah generasi ketiga dan pada masa inilah Gontor mulai surut. Kegiatan pendidikan dan pengajaran di pesantren mulai memudar. Kemunduran ini disebabkan kurangnya perhatian terhadap kaderisasi.

Setelah Kyai Santoso wafat, Pondok Gontor benar-benar mati. Saudara-saudara beliau tidak ada yang sanggup untuk mempertahankan pondok. Yang tinggal hanyalah Nyai Santoso beserta ketujuh putra putrinya dengan peninggalan sebuah rumah sederhana dan masjid tua. Melihat kejadian ini, Nyai Santoso tidak mau tinggal diam. Karena itu, beliau mengirimkan tiga putranya ke beberapa pesantren dan lembaga pendidikan untuk memperdalam agama. Mereka adalah Ahmad Sahal, Zainuddin Fanani dan Imam Zarkasyi.

Pondok gontor baru

Ketiga putra Nyai Santoso yang sering disebut “trimurti” itulah yang menghidupkan kembali Pondok Gontor. Pembukaan kembali Pondok Gontor itu secara resmi dideklarasikan pada Senin Kliwon, 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1345 dalam peringatan Maulid Nabi di hadapan masyarakat.

1. Pembukaan tarbiatul athfal, 1926

Langkah pertama untuk menghidupkan kembali pondok gontor adalah dengan membuka Tarbiatul Athfal [TA], suatu program pendidikan tingkat dasar. Materi, sarana dan prasarana pendidikan sangat sederhana. Tetapi, berkat kesungguhan pengasuh gontor baru, usaha ini membangkitkan semangat belajar masyarakat Desa Gontor. Minat yang sangat tinggi ini diantisipasi dengan mendirikan cabang-cabang TA di desa-desa sekitar Gontor yang ditangani oleh kader yang telah disiapkan.

2. Pembukaan Sullamul Muta’allimin, 1932

Setelah enam tahun TA berdiri, mulailah dipikirkan upaya untuk pengembangan TA dengan membuka program lanjutan yang di beri nama “Sullamul Muta’allimin” [SA], tahun 1932. Pada tingkat ini, para santri diajari secara lebih mendalam dan luas ilmu-ilmu agama, pidato, diskusi, juga diberi sedikit bekal untuk menjadi guru. Disamping itu, mereka juga diajari ketrampilan, kesenian, olahraga, kepanduan dan lainnya.

3. Pembukaan Kulliyatul Mu’allimmin Al-Islamiyyah, 1936

Kehadiran TA dan SA telah menggugah minat belajar masyarakat. Perkembangan tersebut cukup menggembirakan hati dan sangat disyukuri oleh Pengasuh Pesanten. Kesyukuran yang ditandai dengan acara 10 tahun pondok, menjadi semakin lengkap dengan pembukaan program pendidikan baru tingkat menengah pertama dan menengah atas yang dinamakan Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah [KMI] atau sekolah guru islam, yang menandai kebangkitan sistem pendidikan modern di lingkungan pesantren.

Sumber: http://nidaarifin.blogsome.com/2007/12/15/sejarah-gontor/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s