Memilih Gontor

Oleh: Mohammad Izdiyan Muttaqin*

14 April 2011

Akhirnya aku berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, aku masih ingat jelas jumlah nilai Ujian Nasionalku, 24,25. Nilai itu adalah Nilai Evaluasi Murni yang tertinggi kedua di angkatanku. Sebuah hasil yang bagiku pribadi sangat membanggakan meskipun aku masih belum membuat orang tuaku bangga dengan naik ke panggung kehormatan, namun nilai itu setidaknya memberiku semangat untuk menatap masa depanku dengan kepala tegak, apa pun kata orang tentang diriku, aku tetap salah satu yang terbaik di angkatanku.

Nilai Ujian Nasionalku sangat cukup untuk melanjutkan ke SMA-SMA favorit di daerahku. Kakakku Afrig menamatkan jenjang SMA-nya di SMU 34 Pondok Labu, sedangkan kakak pertamaku, Riska Inki Fitria menyelesaikan SMUnya di Bulungan dekat Blok M, di SMU 70 Jakarta. Aku sendiri tidak punya rencana masuk SMU. Jauh-jauh hari aku sudah memutuskan untuk mengikuti jejak Bapak, mondok di Gontor.

Kenapa aku memilih Gontor? Sebuah pondok di daerah pelosok ponorogo yang sama sekali jauh dari hingar bingar dan hiruk pikuk kota-kota besar. Ponorogo sampai hari aku terakhir di sana, hanya memiliki satu buah mall yang ukurannya pun sangat kecil, dan hanya memiliki satu buah bioskop sederhana yang musik penyambut penontonnya adalah musik dangdut, dengan iklan sebelum filmnya iklan-iklan kredit motor!(hasil pengalaman kabur ke bioskop).

Pondok ini juga sangat jauh dari mewah. Uang bulanan ketika aku masuk sebesar 280 ribu rupiah. Itu sudah termasuk uang makan dan uang sekolah sekaligus uang asrama listrik air dan sebagainya. Sungguh biaya hidup yang sangat murah untuk standar kehidupan di Indonesia. Bahkan uang kos di daerahku pun sudah sekitar 300 ribu perbulan. Bayangkan saja bagaimana uang sebesar itu kemudian dibagi untuk makan selama satu bulan, untuk biaya sekolah seperti kapur, tunjangan guru dan lain sebagainya. Belum lagi uang listrik, air, kebersihan, dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Dan pertanyaan yang paling simple adalah, makanan macam apa yang bisa didapat dengan biaya sebesar 200 ribu, dengan catatan 80 ribu untuk uang sekolah. Kalau kita bagi, 200 dibagi 30 kita akan mendapat angka sekitar 6000 untuk satu harinya. Maka untuk 3 kali makan, dana yang tersedia sekitar 2000 untuk sekali makannya.

Aku memutuskan masuk gontor bukan hasil meditasi semalam. Aku memutuskan itu melalui rangkaian pengalaman yang aku temui sepanjang masa pendidikanku di Tsanawiyah. Selepas lulus SD dulu, bapak pernah menawariku untuk belajar di Gontor. Aku serta merta menolak, aku masih ingin nonton TV, masih ingin makan enak tidur enak, tidak terbayangkan bagiku untuk tinggal jauh dari rumah di usia sekecil itu.

Namun setelah beberapa tahun berlalu. Aku merasakan betapa pendidikan yang aku dapatkan tidak memberikan tantangan yang aku inginkan. Tidak memberikan kepuasan yang membuatku benar-benar bosan dan akhirnya tidak percaya kepada sistem pendidikan yang aku sendiri jalani. Aku melihat anak-anak bisa mencontek ketika ujian. Aku melihat diriku yang sebenarnya memiliki potensi yang aku yakin sangat eksplosif seperti kekurangan ruang untuk berkreasi. Aku juga melihat bagaimana pornografi sudah menjangkit generasiku kala itu. Aku melihat masa depanku terancam oleh ketidak jelasan situasi lingkunganku yang semakin hari semakin keruh.

Aku ingin pergi meninggalkan semua hal itu, aku ingin mencari sebuah tempat yang benar-benar tempat penggemblengan yang sejati. Di mana murid-murid di sana diajarkan tentang nilai-nilai kebenaran yang murni, yang tidak tercampur oleh toleransi. Di mana para siswa benar-benar belajar untuk menghadapi ujiannya, bukan menyiapkan contekan.

Aku sendiri tidak tahu seperti apa Gontor sekarang. Yang aku tahu dari cerita-cerita bapak, gontor penuh dengan pengalaman-pengalaman menarik yang langka.

Malam itu aku tertidur sambil membayangkan diriku menginjakkan kakiku di Pondok Modern Gontor, Benteng Islam tempat para pejuang-pejuang islam disiapkan untuk disebar menghadapi tantangan zaman negeri ini. Dan aku sendiri tidak tahu, seperti apa bentuknya Pondok Legendaris ini.

Sumber: http://iz-diyan.blogspot.com/2011/04/memilih-gontor.html

*Tentang Penulis

Saya lahir tanggal 24 agustus 1989, lahir dari keluarga sederhana yang tinggal di perkampungan belakang kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menyelesaikan pendidikan TK di TK Salman, masih di sekitar komplek dosen UIN, kemudian melanjutkan MI dan MTs di komplek yang sama, di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Bosan dengan suasana Ciputat, dan karena ingin tantangan baru, saya memutuskan untuk mengubah jalur pendidikan saya, saya merantau ke jawa timur berguru di pondok legendaris yang alumni-alumninya telah banyak mewarnai Indonesia, pondok modern Darussalam Gontor. Ayah saya yang juga alumni pondok ini mengisi hari-hari masa kecil saya dengan cerita-cerita ajaib tentang pondok itu yang membuat saya semakin bersemangat untuk berguru di sana. Maka ditinggallah saya di Ponorogo, hidup dan berkembang di tengah alam pendidikan pondok modern yang dinamis dan kadang sporadis, totalitas pendidikan 24 jamnya menggembleng fisik saya, motivasi-motivasi ustadz dan kiainya menjadi penyemangat saya dan akhirnya berujung kepada pembentukan ruh baru, “ruh al-ma’had”, semangat gontor. Dan sekarang saya tercatat sebagai mahasiswa jurusan sejarah dan peradaban di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s