Gontor Sumbar

Oleh: Heryazwan

3 November 2008

Hari Jumat minggu lalu, aku terlibat dalam sebuah proyek “akhirat”, mengutip pernyataan pemilik perusahaan tempat aku bekerja, Bapak Haji Syaifullah Sirin. Mengapa disebut proyek akhirat? Karena proyek ini bertujuan untuk mewujudkan berdirinya sebuah pondok pesantren di Sumatera Barat yang berafiliasi ke Pondok Modern Gontor. Jadi tidak ada janji profit sharing di proyek ini.

Proyek ini diinisiasi oleh Dewan Dakwah & Risalah (DDR) yang terdiri dari tokoh serantau yang berasal dari Sulit Air, sebuah nagari yang terletak di kabupaten Solok, Sumatera Barat. Dengan luas tanah lebih dari 10 hektar diharapkan pondok ini bisa menjadi pusat cahaya bagi pendidikan di Sumatera Barat.

Menurut sohibul hikayat, salah satu pendiri Gontor, almarhum Kyai H Imam Zarkasyi pernah berguru kepada Prof Mahmud Yunus di Padang Panjang. Maka, sekaranglah saatnya Gontor membalas budi kepada orang awak.

Berbicara mengenai afiliasi, ada dua tipe pondok yakni gontor cabang dan pondok alumni. Gontor cabang menggunakan sistem yang sama persis dengan Gontor pusat, atau kalau dalam bisnis disebut dengan sistem franchise. Hanya saja, tidak ada unsur uang yang menjadi fee atau sejenisnya di sini, karena semuanya berlandaskan keikhlasan. Saat ini ada 13 pondok Gontor cabang, sehingga jika terwujud, maka pondok yang di Sumbar ini menjadi Gontor 14.

Adapun tipe kedua adalah pondok alumni yang boleh mengadopsi sistem Gontor dan sistem lain yang dianggap baik. Contoh pondok alumni ini adalah PM Ngabar di Ponorogo dan PM Darunnajah di Jakarta.

Lalu proyek apa yang saya terlibat di dalamnya?

Sekumpulan perantau sukses dari Sulit Air ini bertugas sbb:

  1. membebaskan tanah adat dari para ahli waris sehingga mereka bersedia mewakafkan tanah mereka untuk dibangun pesantren.
  2. melakukan pendekatan dengan pemda setempat agar dapat mendukung perizinan dan infrastruktur yang mendukung berdirinya pondok melakukan pendekatan kepada pihak Gontor agar bersedia membuka cabang di Sulit Air.
  3. mencari dana kepada para wakif (orang yang berwakaf) untuk pembangunan fisik pesantren.

Secara umum, tugas tim ini selesai begitu bangunan pesantren berdiri. Setelah itu, orang-orang Sulit Air tidak berhak lagi campur tangan terhadap kebijakan pesantren. Dari sini dapat dilihat bahwa tidak ada motif finansial dalam proyek ini.

Dana awal yang dibutuhkan untuk membangun pesantren ini sekitar 7 milyar. Kemudian, karena gedungnya didesain sesuai nilai seni dan kontur yang berbukit-bukit, serta kapasitas yang bertambah, maka rencana anggaran mencapai sekitar 20 milyar. Alhamdulillah, saat ini sudah ada komitmen dari donatur senilai Rp 1.6 milyar. Subhanallah.

Rencananya, yayasan ini akan melelang ruang yang ada di pesantren: misalnya ruang kelas, kantin, aula, mesjid kepada para donatur. Cara ini dinilai lebih efektif dibanding jika sumbangan diminta dalam bentuk uang.

Bosku yang dikenal dengan gelar Datu Rajomangkuto menyumbang satu mesjid senilai Rp 1 milyar. Mudah-mudahan Allah membalasnya berkali lipat.

Ada catatan menarik dari nagari Sulit Air ini. Meskipun hanya berlevel nagari, tapi perantau mereka sangat kompak di rantau. Mereka mempunya organisasi yang bernama SAS (Sulit Air Sepakat). Saat halal bi halal, tidak ada gedung yang mampu menampung semua perantau di Jakarta. Akibatnya, acara halal bi halal diadakan di lapangan.

Setiap dua tahun sekali mereka selalu mengadakan pulang basamo (mudik bareng). Akibatnya, saat sholat Ied, jalanan menjadi macet total. Sampai-sampai ada himbauan agar pada saat sholat Ied, tidak ada yang boleh bawa mobil ke tempat sholat.

Kesuksesan orang Sulit Air ini sudah menjadi buah bibir di kalangan orang awak. Beberapa ada yang menjadi dirjen, anggota DPR, dan pengusaha sukses. Bahkan, tetangga di nagari sekitar Sulit Air, banyak yang mengaku-ngaku kalau mereka berasal dari Sulit Air. Istilahnya, numpang beken…

Begadang Sampai Pagi

Pada rapat tim panitia yang berlangsung di Ciloto, Puncak pada Jumat sore lalu, sangat terlihat antusias mereka. Rapat dimulai dari sekitar pukul 19.00 dan berlangsung hingga pukul 02 pagi. Rapat berlangsung sangat dinamis. Meski umur mereka sudah banyak yang sepuh, tetapi semangat untuk mencari keputusan yang terbaik tidak menghalangi mereka untuk berdebat panjang. Terkadang sampai bertegang urat leher, namun tetap memperhatikan suasana kekeluargaan.

Yang uniknya, tim ini tidak hanya terdiri dari pria. Ada sekitar 5 orang perempuan yang rata-rata mantan aktivis HMI. Tidak segan-segan perempuan ini mendebat pihak lelaki jika mereka menganggap pendapat mereka lebih baik. Aku yang jadi anak bawang, dan hanya menyaksikan dengan takjub.

Sesekali angin dingin Puncak masuk ke dalam ruangan. Ingin rasanya aku mengeluarkan kembali angin tersebut, tetapi aku tentu saja menahannya karena tata krama tidak mengizinkannya. Hingga rapat usai pukul 02 pagi, segelintir orang masih terus terjaga termasuk aku dan Pak Haji. Datuk Polong masih kuat bercerita dan didengarkan oleh yang lain. Aku hanya mendengarkan, dan berusaha memahami sambil terkadang terkantuk dan menguap.

Law of Attraction

Jika melihat sepintas rasanya kebetulan sekali aku ikut dalam proyek ini. Mengapa? Karena aku pernah belajar di Gontor selama 3 tahun. Yang uniknya lagi, ketua DDR yang menjadi penggerak tim ini adalah alumni Gontor sekaligus saat ini Dekan Fakultas Ushuluddin UIN, tempat aku juga pernah menuntut ilmu. Hanya saja, dulu kami tidak sempat bersua karena Bapak Dekan ini sedang menuntut ilmu di Australia.

Jadi, tidak salah kalau Pak Haji menarikku sebagai tim pengurus pembangunan Gontor Sumbar ini, meskipun aku bukan orang Sulit Air. Kalau masalah kepadangan aku sudah tak asing lagi. Rumah makan padang beserta masakannya yang menggoyang lidah sudah sangat akrab bagiku. Jadi kalau untuk ngomong tambo ciek, baa kaba, sudah tak asing lagi.

18 tahun lalu aku meninggalkan pondok dan tidak pernah sekalipun aku berkunjung ke sana. Barangkali dengan keterlibatanku pada tim ini Allah menunjukkan jalan agar aku kembali menjalin silaturahmi dengan pondokku. Kesibukan kerja biasanya selalu menjadi alasan.

Ponorogo memang tidak terlalu jauh dibanding Medan, jika ditempuh dari Jakarta. Tapi, di Medan kan ada orangtua sehingga motivasi untuk mengunjunginya pasti lebih kuat. Itu yang selalu menjada alasan pembenar bagiku untuk tidak mengunjungi pondok. Apalagi, aku dulu tamat sebelum waktunya, yakni setahun sebelum kelulusan, sehingga ada perasaan tidak terlalu nyaman kalau harus ke pondok. Cerita ini lain waktu akan aku ceritakan.

Sumber: http://heryazwan.wordpress.com/2008/11/03/gontor-sumbar/

Artikel Terkait

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s