GONTOR DARI DALAM (1)

Oleh : Ustadz Hasanain Juaini
(Alumni Gontor, Pimpinan Pondok Nurul Haramain, Lombok Barat, NTB)

Bismillahirrahmanirrahim

Walsantor yang anaknya sekolah di Gontor, jelas tak perlu khawatir hanya karena berawal dari pemaksaan. Secara psikologis anak tamatan SD dan SMP masih dalam barisan angkare (dalam pramuka) sehingga memang membutuhkan bantuan dalam memilih jalan. Gontor tahu hal itu dan sudah ada mekanisme untuk menggilasnya. Ibu-bapak ikhlaskan dan do’akan saja dari rumah.

Menyibukkan adalah mekanisme perdana yang biasanya dirumah tidak mampu dilakukan orang tua. 24 jam bukan perkara mudah untuk mengisinya padahal gerbang kehancuran manusia itu tiga perkara: KEKOSONGAN, MASA MUDA DAN BANYAK UANG. Anak-anak santri yang dirumahnya memiliki ketiga-tiganya adalah mereka yang berat mengalami masa-masa awal di Gontor. Hallo…hallo…hallo ibu bapak walsantor yang kaya-kaya! segeralah bersujud jika anda-anda mampu menutup gerbang kehancuran ini.

Pengaruh kesibukan yang padat ini atau persisnya tak ada abisnye…he he he; membuat beberapa anak nervous, tapi sebaliknya anak-anak yang dirumahnya sudah biasa kerja keras hanya cengengesan saja bahkan terheran-heran melihat teman2 kotanya bagai cacing kepanasan. Opppsss pengurus Rayon sudah diperintahkan untuk memantau hal ini, maka anak-anak kusut akan dipertemankan dengan anak-anak cengengesan itu maka terjadilah sharing mentalitas menuju perimbangan. Tak akan lebih sebulan situasi yang bagai ombak bergulung akan berubah menjadi bagaikan permukaan air yang tenang dan landai-landai saja.

Energi lebih yang dimiliki anak-anak hari demi hari mulai tersalur. Oh ya ada juga anak-anak yang terlalu konfidence sehingga mengikuti berbagai jenis kegiatan extra. Satu dua minggu bisa dilaluinya dengan senangnya persis seperti ibu-bapak yang membawa banyak uang masuk restoran di mall, eee eee semua dibeli, diborong dan disajikan, begitu dua tiga sendok hallaaaaaaaah mau muntah. Ya hal ini juga akan dilibas oleh proses pengenalan diri akhirnya tersisa beberapa kegiatan yang terdaya dia ikuti. Maka ada mahfudzot: HALAKA IMRUUN LAM YAKRIF QODROHU=HANCURLAH MANUSIA YANG TIDAK MENGENAL UKURAN DIRINYA, yang diajarkan tepat waktu. Inilah yang membimbing anak-anak untuk menjadi lebih arif. Nah tapi siapa yang membimbing orang tuanya dirumah yang terbiasa BERGEBYAH UYAH?

Alhasil ibu-bapak kalau berkunjung ke Gontor (awas jangan terlalu sering) jangan ganggu anak-anak dengan kalimat-kalimat: Ohh kasihan anakku lelah sekali di Pondok. Enggak dapat makan enak, enggak dapat malas-malasan, tidak ada TV, tidak ada HP …dst. Sebaiknya kasihanilah diri sendiri yang dirumah tak terbimbing menuju hidup ala Rasulullah.

Saya punya kisah. Begini (Tak terlalu perlu. Kalau tdk ada waktu lewatkan saja) :

Pertengahan tahun 1979 ketika perpulangan pertama saya sampai dirumah sekitar tengah malam. Saya temukan ibu-bapak saya sedang akan berjamaah shalat tahajjud, setelah dibukanan gerbang, maka saya mencium tangan dan pipi ibuku lalu tangan dan pipi ayah.

Dari belakang punggung saya dengan isak tangis ibu saya yang meraba tulang iga saya dan berkata: Oh anakku mengapa engkau begitu kurus? Ibu terus menangis saat shalat tahjjud berjamaah tapi ayah selalu senyum tak bilang apa-apa.

Peristiwa yang mirip terjadi lagi pada perpulangan libur akhir tahun itu juga. Bedanya kini ibu saya tertawa sumringah karena saya memang berusaha untuk tidak membuatnya menangis sehingga selama di Gontor kalau makan berusaha banyak-banyak (maklum masa pertumbuhan kan? dan memang kata berjimat kyai Zarkasyi mengatakan: makanlah yang banyak tapi belajar harus lebih banyak). Saya berhasil, badan saya gemuk dan ibu tersayangpun tertawa senang. Alhamdulillah.

Ketika beranjak menyalami ayah saya, beliau tidak memberikan ekspresi senang. Beliau hanya menunggu saya menyampaikan pesan lisan Kyai Zarkasyi (seperti yang biasa diamanhkan waktu salaman akhir tahun) . . . Pesan Pak Yai assalamu’alikum . . .jaga nama baik pondok….bantu kerja2 orang tua . . . .bla bla bla…

Diruang shalat saya mendengar ibu saya menungkas ayah dengan katanya: Kak….mengapa kakak tidak senang dengan kepulangan anak kita kali ini? Agak kencang ayah saya menjawab: karena saya lihat dia di sana cuma makan tapi tidak belajar…

Ini benar bapak ibu. Keesokan harinya saya minta permisi minta kembali ke Gontor. Tidak jadi puasa dan lebaran bersama keluarga karena saya malu kepada mereka yang telah melahirkan dan membesarkan saya sedangkan saya tidak membua mereka BANGGA.

Karena di Gontor pada awal Ramadlan memang agak sepi, maka dengan izin Allah saya sering bertemu dan bercakap-cakap dengan Kyai Zarkasyi sehingga beliau kenal saya. Saya ingat sekali pada waktu shalat Iedul Fitri dengan nyaring beliau memanggil nama saya di mike dan ditunjuk untuk membagi-bagikan shadaqah dari kelebihan hasil percetakan beliau kepada santri-santri yang berdiam dan berpuasa di Gontor.

(Mohon do’a kesehatan agar bisa melanjutkan kisah-kisah Gontorian)
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sumber: http://imambachtiar.wordpress.com/2012/03/12/gontor-dari-dalam-1/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s