Belajar di Pondok Modern Gontor; Pengalaman Seorang Santri

Penulis: Guzmike Elfata

Sekelumit kisah saya …

Saya mulai berandai-andai dan memutar kembali memori masa lalu ketika saya menjadi santri. Kira-kira bagaimana jadinya kalau saya memiliki wali santri yang hebat-hebat dan aktif-aktif seperti bapak dan ibu sekalian, yang tidak lelah mendoakan putra-putrinya tanpa melupakan doa bagi para asatidz dan pengasuhnya, memiliki rencana yang matang untuk putra-putrinya. Apalagi mayoritas wali santri merupakan kaum terpelajar bahkan ada diantaranya lulusan luar negeri, memiliki wawasan luas, bahkan sudah berhaji ke tanah suci…pasti keadaan saya jauh lebih baik dari sekarang hehe (insya Allah saya masih bersyukur). Ijinkanlah saya berbagi kisah menjalani pendidikan di Gontor (curhat dikit).

Saya adalah anak bungsu dari 3 bersaudara dan merupakan satu-satunya yang berkelamin laki-laki. Ayah saya sudah almarhum ketika saya menjadi santri baru Kelas 1 intensif, pertengahan tahun pertama. Pada awalnya saya ditempatkan di Gontor 3 Ma’rifat, kemudian alhamdulilah prestasi akademik saya lumayan bagus akhirnya dipindah ke Gontor 1. Kematian ayah bagi saya, yang saat itu baru beranjak usia remaja begitu menyakitkan ditambah dengan kehidupan keras Gontor yang senantiasa menyuguhkan masalah-masalah berat sehingga kebutuhan pendamping sesosok “ayah” sebagai tempat keluh dan kesah merupakan sebuah keniscayaan. Tapi kemanakah saya berkeluh kesah? Haruskah saya mendatangi makam ayah saya kemudian berteriak: “Ayah keluarlah dari liang lahatmu, anakmu ini baru saja menerima hukuman push-up sebanyak 50 kali, saya mohon agar ayah memberi pelajaran setimpal kepada mereka yang telah mendzolimi saya”. Tentunya tidak mungkin dan tidak masuk di akal, bukan? Apalagi saya kurang puas dengan solusi yang diberikan oleh ibu yang hanya mengatakan “Sabar nak, sabar nak”, dalam hati saya pernah berujar: “Anak mau sekarat kok disuruh sabar” (semoga dosa saya ini terampuni). Pada suatu saat saya memutuskan untuk mencari alasan agar bisa boyong dengan terhormat. Akhirnya saya menemukan cara yang tepat tapi terhormat yaitu lewat “bermalas-malasan belajar sehingga akhir tahun tidak naik kelas dan pulang”. Dan benar saja, nilai awal tahun saya begitu anjlok tinggal menambah nilai yang sama di akhir tahun, dipastikan saya akan menyandang status “mujiddin” (gelar bagi santri yang tinggal kelas) dan pulang.
Wali kelas saya, saat itu ” Ust Heri Kurnia asal padang “tidak tinggal diam dengan keadaan saya, dan berusaha mencari tahu apa penyebab “keanehan saya”. Tiap malam beliau menceramahi saya seputar permasalahan yang saya alami (saya terkesan cengeng memang).

Alhamdulilah lambat laun keinginan saya untuk boyong malah semakin kuat hehe, akhirnya ibu saya datang dan mengajak silaturahim ke Ust. Hasan meminta pertimbangan niat saya “boyong”. Sebelum menghadap ke beliau, saya sudah berkhusnudzon tampaknya ustad Hasan akan luluh hatinya dan merelakan saya pergi melihat kondisi ekonomi keluarga, apalagi ibu saya hanya ibu rumah tangga yang mengandalkan biaya kebutuhan dari pensiunan almarhum ayah yang tidak seberapa besarnya, di waktu yang sama ibu juga memiliki 2 anak asuh yang masing-masing diberi uang saku untuk sekolah.

Di luar dugaan, pak Hasan hanya memberi jawaban singkat “Tidak. Itu hanya bisikan syetan, sudah … kembali ke pondok!”. Begitu mendengar jawaban singkat beliau, nyali saya ciut, dan saya hanya mengangguk-ngangguk saja, kemudian meninggalkan kediaman beliau layaknya orang linglung yang gagal mewujudkan impiannya. Di sepanjang jalan menuju asrama, saya hanya menggerutu, dan tidak ikhlas sembari tetap membayangkan eksekusi malaikat maut yang sewaktu-waktu terjadi saat saya menerima sanksi dari pengurus rayon atau yang lebih tinggi dari mereka (saya termasuk tipe pemberontak ).

Akhirnya hari-hari berikutnya saya isi dengan kegiatan menganalisa, melamun, membanding-bandingkan keadaan saya dengan kawan-kawan seperjuangan. Hasilnya, saya tetap yang paling unggul, sementara kawan-kawan yang kondisinya lebih terpuruk dari saya buanyak. Apalagi rumah mereka rata-rata di luar pulau jawa. Betapa hinanya diri ini jika menyerah dengan keadaan sementara yang lain banyak yang lebih terpuruk dan menderita dibanding saya.

Akhirnya semangat “man sobaro dzofiro” kembali saya kobarkan, saya benamkan jiwa dan raga sedalam-dalamnya menyelami samudra pendidikan dan pengajaran Gontor, saya buang sejauh-jauhnya tradisi keluh-mengeluh kemudian saya ganti dengan tradisi bersyukur sebagaimana yang dipraktekkan oleh kawan-kawan seperjuangan. Saat itu pula keinginan untuk bertemu arwah almarhum ayah dengan harapan ingin menyampaikan segala keluh dan kesah saya hilangkan seiring dengan tampilnya “Gontor” menjelma sebagai ayah kedua bagi saya. Dan begitulah seterusnya, saya nikmati hari-hari penggemblengan sampai akhirnya saya lulus dan diberi kesempatan mengabdi di Gontor 1, hingga tanpa sadar terdampar di Mesir walau keinginan tersebut pernah terkubur seiring dengan terbenamnya jasad ayahanda di dalam tanah. Demikian kisah singkat saya, semoga memberi manfaat dan menjadi kesyukuran bagi wali santri yang sampai saat ini dan nanti semoga diberikan keberkahan umur yang panjang. Amin.

Harapan saya semoga bapak/ibu wali santri tetap ikhlas dan meningkatkan keikhlasannya. Saya yakin putra/putri yang saat ini masih menimba ilmu di Gontor dengan segala kelebihan dan kekurangannya akan semakin matang sekembalinya mereka di pangkuan bapak/ibu walisantri yang senantiasa saya banggakan..:). Apalagi bapak/ibu wali santri dengan segala kemampuan dan kelebihannya, telah merencanakan dengan matang kemanakah sang buah hati kan berlabuh setamatnya dari Gontor. Begitu juga kekhawatiran yang saat ini melanda bapak/ibu sekalian disebabkan “segala kekurangan Gontor”, semoga akan diganti dengan kebanggaan begitu putra-putri meraih kesuksesannya dalam proses pengabdian umat. Semoga….

Sumber: http://imambachtiar.wordpress.com/2011/09/19/belajar-di-pondok-modern-gontor-pengalaman-seorang-santri/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s